oleh

Bukan Cuman Pondoknya tapi siapa Kiainya?…

KH.Badri Mashduqi: “Bukan Cuma Pondoknya tapi Siapa Kiainya?”

Masih segar dalam ingatan saya, sewaktu saya mondok di Pesantren Badridduja di bawah asuhan KH.Badri Mashduqi, beliau pernah menyampaikan sewaktu mengisi pengajian kitab di hadapan santri: “Kalau mau mondok, carilah kiainya yang bisa ngajar [ngaji kitab] sendiri,” tegas Kiai.

Setelah saya diberi amanah oleh pengasuh pesantren yang sekarang (KH.Tauhidullah Badri) untuk menjadi Ketua Syaikh Badri Institute atau SBI kemudian, baik saya maupun bersama dengan kelompok kajian SBI, menetili karya-karya peninggalan KH.Badri Mashduqi. Di antara makalah Kiai Badri yang saya baca (makalah, 1979), berjudul, “Prasaran KH.Badri Mashduqi Wakil Rais Tsalists Syuriyah Wilayah NU Jatim, ” terasa sekali isinya, di poin ketiga, Kiai Badri menyoroti tentang, Faktor Ketahanan, Ketangguhan dan Kelangsungan Hidup Jam’iyah, Kapan dan Dimana Saja. Ada 4 faktor menurut Kiai Badri, salah satunya adalah “Kharisma Alim Ulama.”

Kenapa Kiai Badri amat konsen kepada siapa Kiai (baca, Ulama)-nya, bukan apa atau seperti apa pondoknya. Dalam hal ini, bukan berarti beliau tidak peduli terhadap keberadaan seperti gedung dan fasilitas di pesantren. Justeru Pondok Pesantren Badridduja di masa kepemimpinan beliau, boleh dibilang paling megah di antara pesantren yang lainnya, khususnya yang berada di kawasan Kraksaan. Nah, apalagi Badridduja sekarang.

Sehubungan dengan judul tulisan ini—seperti tulisan di dalam makalah KH.Badri Mashduqi—,lebih lengkapnya beliau menuliskan begini:

“Sebab yang penting sumbernya bukan mereknya seperti halnya, yang penting bukan cuma pondoknya tapi siapa Kiainya?”

Judul di atas menggambarkan, betapa KH.Badri Mashduqi amat selektif dalam memilih kiai atau ulama di sebuah pondok pesantren. Pentingnya dalam hal ini karena terkait langsung dengan silsilah keilmuan. Jadi, memilih seorang ulama, yang akan mengalirkan ilmunya kepada murid atau santrinya adalah bagian yang teramat penting dalam dunia pendidikan. Apalagi di era sekarang, asal comot tulisan di berbagai media canggih memilih tentang ilmu apa saja, sudah dianggap hal biasa. Bagaimana mendapatkan ilmunya ulama, sebagaimana yang diharapkan Kiai Badri. Tentu saja jauh berbeda dibanding belajar langsung kepada guru, kepada seorang kiai atau ulama.

Ini penting sekali dipahami terutama oleh orang tua, jika menyekolahkan anak atau memondokkan anaknya ke sebuah pesantren, maka teliti dulu, siapa yang menjadi gurunya, pendirinya atau pengasuh pesantrennya.

KH.Badri Mashduqi mendefinisikan alim-ulama yang memiliki kharisma adalah ilmunya bersanad dan bersilsilah kepada ilmunya Rasulullah SAW., yang ternyata tidak mudah dipengaruhi baik harta, pangkat, wanita maupun pengaruh-pengaruh apa pun saja. Ilmu semacam inilah, tegas KH.Badri Mashduqi, yang membuat seseorang konstan atau teguh pendirian, konsisten atau setia kepada janji dan amanat, atau sadar kepada prinsip dan berpendirian. Sehingga dengan demikian, tambah Kiai Badri, pada dirinya tidak kebobolan, tidak mudah diperalat oleh orang lain dan tidak mudah hanyut oleh arus aktivitas-aktivitas oleh orang lain.

Semoga kita betul-betul mendapatkan ilmu dari kharisma Alim Ulama atau ulama yang berkharisma, seperti harapan Syaikhuna Badri Mashduqi. Aamiin.

Kraksaan, 13 Juli 2019

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru