oleh

Etika Religius Kiai Badri Mashduqi dalam Berdakwah dan Menyikapi Perbedaan Pandangan

ETIKA RELIGIUS KH.BADRI MASHDUQI DALAM BERDAKWAH DAN MENYIKAPI PERBEDAAN PANDANGAN

 

Perbedaan adalah hal yang lumrah. Berbeda pendapat asal disikapinya dengan cara yang baik, dijalani dengan ikhlas, bukan karena sentimen, bersikap adil, adalah prinsip yang dijalankan Kiai Badri Mashduqi.

Kiai Badri Mashduqi adalah Muqaddam dan Khalifah Tarekat Tijani di Indonesia, bertarekat dengan ajaran tarekat Syaikh Ahmad Tijani, dan Kiai Badri Mashduqi dengan tetap menjaga agar hubungan sesama ahli tarekat terjalin dengan baik. “Ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah pada umumnya, dan ulama NU pada khususnya itu sangat hormat kepada para wali Allah, baik yang tidak tercantum di dalam kitab-kitab maupun dan utamanya yang ada di dalam kitab-kitab, seperti yang disebut di dalam kitab Jami’ Karomatil Auliya’ dan sebagainya. Sama dengan sikap orang-orang Tijani. Orang-orang Tijani diwajibkan oleh tarekatnya itu ta’dzim kepada para wali dan para Atqiya.'” Begitulah dawuh Kiai Badri.

KH.Badri Mashduqi menghimbau kepada sesama ahli tarekat: “Sesama ahli tarekat perlu digalakkan penggalangan saling pengertian, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, saling dukung-mendukung, saling topang-menopang dan saling tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dengan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan sepele yang hanya akan memboroskan tenaga dan waktu di dalam soal-soal yang kurang berarti atau tidak berarti sama sekali.”

Prinsip-prinsip dalam ajaran tarekat Syaikh Ahmad at-Tijani dijalankan, Kiai Badri pun tetap menjunjung prinsip Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Iyyakum antuhibbu ahadan au takrahuhu illa ba’da ‘ardli af’alihi ‘ala al-kitabi wa as-sunnati kayla tuhibbuhu bi al-hawa wa tabghuhu bi al-hawa (Janganlah sekali-kali kalian itu mencintai siapa pun atau membenci siapa pun kecuali setelah perbuatan orang itu dicocokkan menurut neraca al-Qur’an dan Sunnah. Karena kita cinta dan benci kalau tidak memakai neraca al-Qur’an dan Sunnah, dasarnya pasti hawa nafsu).”

Prinsip itulah disampaikan oleh Kiai Badri Mashduqi dalam rangka untuk saling menghargai khususnya sesama ahli tarekat.

Kiai Badri Mashduqi dikenal kritis kepada KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terutama terkait dengan syariat, tapi Kiai Badri tetap mencintai Gus Dur dengan sepenuh jiwa bahkan Kiai Badri mengakui kepada Gus Dur sebagai imamnya mengenai perjuangan Gus Dur soal demokrasi, HAM, dan keterbukaan: “Saya kepada Gus Dur sebagai imam, respek mengenai perjuangannya soal Demokrasi, HAM, dan keterbukaan.” Begitulah cara Kiai Badri menghargai Gus Dur.

Kiai Badri Mashduqi dikenal kritis kepada pemerintahan Orde Baru, bahkan Kiai Badri pernah dipenjara karena gara-gara perjuangan dakwahnya membela Pancasila agar nilai-nilai Pancasila betul-betul dijalankan oleh pemerintah. Masa itu pada tahun 1977. Tapi Kiai Badri kemudian cukup dikenal dekat dengan Pak Harto, dengan tegas Kiai Badri menyatakan, “Kalau saya disuruh mengeritik Soeharto, ya ada saja kesalahannya. Sebab beliau juga manusia. Saya bisa mengeritik, tapi untuk apa?”

Hikmah kedekatan Kiai Badri kepada Pak Harto, secara pribadi dan sebagai kepala negara di bumi yang penduduknya mayoritas muslim ini (Indonesia), agar Pak Harto naik haji. Alhamdulillah Pak Harto bersama keluarga naik haji. Termasuk tentang SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang kala itu menuai kritik dari sebagian besar penduduk muslim, termasuk oleh ulama atau para kiai, bahkan terjadi demo dimana-mana agar SDSB dibubarkan. Cara Kiai Badri? Mendatangi Pak Harto ke istana negara, “Ya, saya usulkan agar SDSB dibubarkan saja,” tegas Kiai Badri kepada Pak Harto. Apa jawaban Pak Harto? “Ya itu betul. Ulama memang harus amar ma’ruf nahi munkar. Sudah seharusnya begitu.” Tidak lama kemudian, SDSB bubar.

KH.Badri Mashduqi dalam memberikan nasihat, mengkritisi seseorang tidak segampang dan sebebasnya menyelesaikannya di atas podium atau seperti di acara-acara terbuka lainnya, media seperti koran. “Yang dapat menyelesaikan persoalan hanyalah nasehat, Ad-Din al-Nashihah. Wong diselesaikan dengan cara hura-hara melalui pers dan mass media lainnya atau pun dengan menyalahgunakan majelis-majelis pengajian, ya tidak ada selesainya. Coba niatnya ikhlas, yang penting tujuannya tercapai, bukan sok menang-menangan, semua persoalan Insya Allah dengan pertolongan-Nya mudah diatasi dan konflik mudah diakhiri,” tegas Kiai Badri.

Dengan demikian, kita bangsa Indonesia sebenarnya telah diberikan contoh dan pelajaran amat berharga, bagaimana seharusnya menilai, memperbaiki, mengeritik kepada siapa dan misal kepada lembaga dan lain semacamnya. Tinggal bagaimana generasi bangsa meniru para pendahulu seperti KH.Badri Mashduqi, Gus Dur, dan tokoh-tokoh lainnya.

Semoga kita menjadi bangsa yang mampu merawat hubungan sesama anak bangsa, cinta damai dan saling menghargai. Aamiin.

#Sumber tulisan: Dokumentasi dan Perpustakaan Syaikh Badri Institute

Kraksaan Probolinggo,

21 Muharram 1441 H. / 21 September 2019 M.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru