oleh

Guru kadang di Anggap TOILET dan TEMPAT HIBURAN Oleh KH. Tauhidullah Badri

Guru kadang di Anggap TOILET dan TEMPAT HIBURAN

Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa ruh orang yang sudah meninggal mempunyai “irtibhat” (ikatan) dengan maqbarohnya dimulai dari kamis sore sampai fajar hari sabtu, oleh karenanya banyak diantara kita yang melakukan pembacaan surat Yasin, Tahlil dan ziarah maqbaroh (kuburan) dilakukan dihari-hari tersebut sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh HASB Probolinggo pada hari kamis sore tanggal 4 Januari 2018 yang telah melaksanakan ziaroh dg membacakan surat al-Fatihah, Yasin & Tahlil di maqbaroh Syaikhuna Guru Besar KH. Badri Masdhuqi, dengan harapan semoga antara murid dan gurunya juga akan tetap selalu mempunyai “irtibath” yang selalu nyambung secara dhohiriah lebih-lebih secara bathiniah.

Tentu pembacaan surat al-Fatihah, Yasin dan tahlil bisa dilakukan dimana saja, namun “dzauqul bathiniah” (rasa yang ada dalam jiwa) akan tampak berbeda jika itu dilakukan dipusara sang guru/orang tua, sebagaimana akan berbeda pula “dzauqul bathiniah” itu jika membacakan al-Fatihah dan Sholawat dihadapan Makbarohnya Rasulullah yang Mulya di Madinah dibandingkan ditempat lain dimanpun kita berada.

Dikatakan, bahwa barang siapa yang membaca Sholawat dan Salam dihadapan pusaranya, maka Allah akan mengembalikan Ruh mulya Rasulullah pada Jasadnya untuk membalas dan menjawab langsung Sholawat dan Salam yang kita ucapkan.. Subhanallah….

Adapun ziarah yang dilakukan murid terhadap Maqbaroh gurunya adalah juga merupakan sebuah gambaran sebagai usaha menyambungkan “ta’alluq bathiniah” (hubungan emosional) yang tidak bisa dihindarkan, sebagaimana ta’alluqnya anak terhadap orang tua, karna terkadang, bahkan masih banyak “ta’aluq bathiniah” antara murid dan guru, antra alumni dan pesantrenya tak ubahnya seperti (maaf) TOILET. Artinya jika sudah mempunyai hajat yang tak bisa terbendung lagi (dalam bahasa Maduranya : Jujjuh), maka dia akan mendatangi tempat tersebut untuk membuang hajatnya..(jika sudah ada keperluan dalam kehidupannya baru ingat dan mendatangi gurunya).

Dan juga tak ubahnya seperti TEMPAT HIBURAN, artinya jika sudah mempunyai kesumpekkan dan kegalauan maka dia akan ingat akan tempat2 hiburan yang akan menenangkannya. ( jika sudah punya kesumpekkan, baru ingat dan lari ke pesantrennya).

Oleh karenanya Program Ziaroh Makbaroh Syaikhuna yg dicetuskan oleh HASB PROBOLINGGO ini, adalah sebagai gambaran dan instropeksi diri (sebagai murid dan alumni) bahwa, sudikah “ta’alluq bathiniah” kita kepada guru dan pesantren seperti TOILET atau TEMPAT HIBURAN sebagaimana pernyataan di atas….

 

(Dikutip dari sambutan Pengasuh PP. Badridduja KH. Tauhidullah Badri, pada acara Ziaroh Maqbaroh Guru Besar Syaikhuna KH. Badri Masdhuqi oleh HASB Probolinggo)

Kamis, 4 Januari 2017

(Ketua Devisi Da’wah B3M)

 

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru