oleh

Halaqah Pendidikan: Belajar Bersama KH Badri Mashduqi

Halaqah Pendidikan: Belajar Bersama KH Badri Mashduqi

KH Badri Mashduqi bukan hanya sosok kyai, tetapi juga guru dan pemimpin yang visioner dan refleksioner (KH Tauhidullah; Mahmud). Hal ini dibuktikan dengan karakter dan visi pendidikan dan kepemimpinan beliau yang jauh melampaui jamannya. Beliau adalah peneliti sejati yang sering gelisah, berpikir mendalam tentang suatu persoalan dan dengan penuh pertimbangan dan sangat hati-hati mengupayakan solusi. Azas merupakan solusi yang ditawarkan sebagai jawaban atas kekhawatiran dan kegelisahan beliau terhadap degradasi moralitas dan reduksi keilmuan lantaran banyaknya ulama yang wafat. Dalam konteks pendidikan kontemporer, KH Badri menganut perspektif critical creative thinking. Pertanyaan reflektifnya adalah: “saat KH Badri telah wafat, lalu siapakah yang akan mendokumentasikan pemikiran-pemikiran besar beliau?”

Mula-mula visi pendidikan KH Badri Mashduqi menginternalisasi dengan sosok beliau sebagai seorang kyai. Beliau seringkali menegaskan bahwa Azas ditujukan “untuk mencetak kyai” (Hosnan). Bahkan, lantaran begitu yakinnya dengan ilmunya, sampai-sampai beliau kerapkali berujar, “Mon ta’ alem, copaen…” (Kalau tidak alim, ludahi…) (Musthofa Wiyono; Hasan Badri). Dalam konteks kekinian, ungkapan beliau tersebut dapat diinterpretasikan bahwa seorang pendidik haruslah yakin dengan ilmunya, dan ikhlas dalam mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Seorang pendidik (guru, ustadz atau apapun namanya) semestinya mengenal diri dan kemampuannya, menghadapkan hati kepada Allah, ‘menghadirkan’ Allah dan merasa diawasi oleh Allah ketika sedang mengajar. Merujuk pada Douglas MacArthur, “mengenal diri dan Tuhan [Allah] adalah landasan ilmu pengetahuan”.

Dalam mendidik santri, KH Badri Mashduqi lebih mendahulukan rekonstruksi watak/sikap/perilaku ketimbang otak; atau, istilah sekarang, afektif terlebih dahulu, lalu kognitif dan psikomotorik (Roji), sehingga output PP Badridduja adalah generasi yang disiplin, berakhlaq dan tahu batas. Sebagai ikhtiar untuk tercetaknya generasi semacam itu, Syamsuri mengusulkan kegiatan pembelajaran diniyah (Azas) seyogyanya dilaksanakan pagi, sedangkan pembelajaran umum siang hari. Usulan ini sangat baik untuk menghidupkan kembali Azas secara murni, namun tidaklah mudah dalam implementasinya, terutama setelah melihat kondisi sosial ekonomi yang sudah berubah

(KH Tauhidullah). Bahkan, menurut KH Tauhidullah, KH Badri Mashduqi pernah berkehendak mendirikan SMK dan pondok sebagaimana Pondok Modern Gontor. Ini menandakan bahwa beliau menginginkan ada integrasi antara ilmu umum dan ilmu agama. Ruh kitab kuning dan Azas hendaknya dihembuskan ke seluruh lembaga formal yang ada dan dijadikan pondasi utama untuk menyelenggarakan pembelajaran yang lebih berorientasi pada azas manfaat, penelitian, proses dan akomodatif terhadap hal-hal yang baru (Ehsan; Hasbullah; Juma’asan; Hasan Badri). Pendidikan harus memiliki kapasitas multidimensi: tawaddu’, ikhlas, derajat karena Allah dan kebebasan (Hilmi). Harapan semestinya dibangun dari 4 elemen ini, bukan dari kekhawatiran dan ketakutan.

Untuk menangkal arus globalisasi dan kapitalisme dewasa ini, setidak-tidaknya ada nilai-nilai yang bisa dikembangkan di PP Baddriduja:

  1. Istiqomah
  2. Ikhlas
  3. Disiplin (komitmen)
  4. Tanggung jawab
  5. Tawaddu’
  6. Inklusiv
  7. Kesederhanaan

Wallaahu A’lam

 

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru