oleh

Hujan Lebat Tak Membuatnya Basah (Kisah Karomah KH Badri Mashduqi)

HUJAN LEBAT TAK MEMBUATNYA BASAH

Kisah Karomah KH.Badri Mashduqi Kraksaan

Sebelum Gestapu PKI meletus, KH.Badri Mashduqi yang kala itu nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton di bawah asuhan KH.Zaini Mun’im, ia (Kiai Badri)—seketika mondok di Nurul Jadid, KH.Badri Mashduqi, akrab dipanggil dengan panggilan Bindere atau ada sebagian yang memanggilnya dengan panggilan Lora—diundang untuk mengisi sebuah pengajian, yang penyelenggaranya adalah Ranting NU Plampang, Kecamatan Paiton. Pengajiannya dilaksanakannya malam di Desa Plampang, Paiton. Bindere Badri dijemputnya dari Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan menggunakan sepeda onthel oleh Bapak Ahmad Misrani, selaku pengurus Ranting NU Plampang. Seketika Misrani sampai di Nurul Jadid, tiba-tiba hujan turun amat lebat. Jadinya, untuk menyampaikan kepada Bindere Badri, yang namanya Misrani sebelumnya agak ragu dan bimbang, sebabnya, hujan begitu lebatnya. Tapi mau bagaimana lagi karena acara pengajian ini sudah positif untuk segera dilaksanakan, dengan memberanikan diri, Misrani menghadap kepada Bindere Badri.

“Samangken baktonna pengajian neng Plampang, Bindre (Sekarang sudah waktunya pengajian di Plampang, Bindere),” beritahu Pak Misrani dengan gugup.

“Engghi tore langsung berangkat pon (Iya, marilah langsung berangkat!),” tegas Bindere Badri. Padahal ketika itu hujan turun belum reda dan bahkan masih amat lebat.

Gak pakai lama, berangkatlah keduanya (Pak Misrani bersama Bindere Badri) menuju tempat acara di Plampang. Pak Misrani yang menyetir sepedanya, sementara Bindere Badri berada di belakangnya.

Aneh bin ajaib tapi nyata. Perjalanan menggunakan sepeda onthel berdua, mulai berangkat dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Tanjung sampailah di tempat acara (Desa Plampang), keduanya (Bindere Badri dan Pak Misrani) tak sedikitpun basah, padahal hujan begitu lebatnya.
—————————

Hikmah dari kisah karomah :
1. Betapa logika tidak bisa menerimanya tapi jika Allah berkuasa tak ada siapa pun yang menolaknya.
2. Tanggung jawab menjadi da’i, aktivis dakwah serta kegiatan terutama yang berkaitan keumatan haruslah tetap dilakukan betapa pun rintangan menghadangnya.
3. Secara khusus, besarnya perhatian Bindere Badri terhadap kegiatan keumatan seperti dalam mengisi pengajian adalah perhatian besar. Bindere Badri cukuplah memberikan keteladanan, betapa besar perhatian dia terhadap kegiatan seperti tugas yang diembannya, mengisi pengajian.

#Wawancara bersama K.As’ad, 25 April 2014, di Bucor Kulon, Pakuniran, Probolinggo.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru