oleh

Jatidiri Seorang Pemimpin, Agar Santri Terlatih Menjadi Pemimpin

JATIDIRI SEORANG PEMIMPIN, AGAR SANTRI TERLATIH MENJADI PEMIMPIN

“Saya bermakmum pada santri biar saya tidak punya penyakit ujub dan santri pun biar terbiasa jadi pemimpin. Ketika sejak di pondok, kalau dijumpai oleh kiainya [apabila terdapat santri melakukan kesalahan dan kekeliruan] segera diperbaiki!”

KH.Badri Mashduqi

Memahami dauh KH.Badri Mashduqi tersebut bahwa kepemimpinan yang baik dibangun dengan kepribadian yang baik dan memberikan inspirasi teladan bagi orang lain. Dauh tersebut dapatlah dipahami, bukanlah hanya bagaimana seharusnya kita memimpin orang banyak tapi bagaimana seharusnya membangun karakter diri kita menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya.

Adalah KH.Badri Mashduqi (Pendiri Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo), memberikan inspirasi teladan kepada santri-santrinya agar mereka tidak hanya terlatih dan terbiasa menjadi pemimpin buat orang banyak, akan tetapi, menjadi seorang pemimpin diharapkan mampu menghiasi dirinya sendiri agar terhindar dari penyakit _ujub._ Sebab, salah satu sifat tercela yang dapat menjadi penyakit hati adalah ujub. Ujub dalam Islam diartikan sebagai perilaku atau sifat mengagumi diri sendiri dan senantiasa membanggakan dirinya sendiri. Dampaknya dari ujub tidak hanya di dunia tapi juga bisa mendatangkan mudlarat kelak di akhirat karena Allah tidak menyukai penyakit ini. Karena itulah KH.Badri Mashduqi ketika mendidik santrinya, tidak selamanya beliau menjadi imam ketika sholat bersama santri-santrinya karena beliau mempunyai tujuan agar tidak punya penyakit ujub. Dengan demikian, diharapkan agar santri-santri beliau meneladaninya, bagaimana jatidiri sebagai seorang pemimpin, dengan terhindar dari penyakit ujub menjadikan diri sebagai pemimpin tidak mudah sombong dan membanggakan diri. Berarti seorang pemimpin yang demikian adalah pemimpin yang mempunyai kesalehan diri dan dicintai.

Tidak hanya itu, KH.Badri Mashduqi menjadikan santrinya sebagai imam ketika melakukan sholat berjamaah sementara Kiai Badri sebagai makmumnya, karena beliau berkeinginan agar si santri tersebut ketika masih berada di pondok pesantren atau ketika masih tahap belajarnya, manakala kelak sudah terjun ke masyarakat (diharapkan) sudah tidak diragukan lagi untuk terbiasa tampil di tengah-tengah masyarakat. Berarti santri yang demikian tentu lebih siap dan lebih terlatih daripada santri yang sebaliknya. Jadi calon atau kader pemimpin atau santri yang terlatih pasti berbeda dengan kader pemimpin atau santri yang tidak terlatih.

Tidak kalah pentingnya, ketika santri masih di Pondok Pesantren, misalnya terdapat kesalahan dan kekeliruan ketika menjadi imam atau dalam bidang lainnya, maka segeralah memperbaikinya. Tentunya memperbaiki diri ketika masih tahap belajar lebih mudah dibanding ketika memperbaikinya kelak berada di tengah-tengah masyarakat. Berbeda dengan santri yang belum terbiasa atau santri yang tidak terlatih semasa di pondok, yang apabila sudah terjun ke masyarakat, bisa-bisa mereka lebih sulit memperbaikinya. Maka tidak jarang ada istilah bahasa Madura, “kardiman (kareppa dibi’ man-manyaman),” alias semaunya sendiri, misalnya ketika ditegurnya malah berlagak sombong dan ogah memperbaiki diri serta tidak terbiasa menghargai orang lain.

Dalam konteks ini juga dapatlah dipahami bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah yang terbaik, sebab tanggung jawabnya bukan sebatas di dunia, kelak di akhirat pun terdapat pertanggungjawaban dirinya di hadapan Yang Kuasa.

Semoga kita menjadi seorang pemimpin yang dapat menjaga kepribadian, tidak sombong, tidak ujub, tidak membangga-banggakan diri, mudah menerima kritik dan nasehat orang lain, atau hal-hal yang tercela lainnya. Semoga kita mampu menjadi suri tauladan yang baik dan diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.

#Wawancara bersama KHR.Amiruddin Jazuli di Sumenep Madura (19 Maret 2014)

Kraksaan, 8 Maret 2019

Penulis : Saifullah

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru