oleh

Kajian Tasawuf: Bersandar Kepada Allah & Menjalani Sunnatullah

Kajian Tasawuf

Bersandar Kepada Allah & Menjalani Sunnatullah
(Perlunya Iman & Ilmu)

Merebaknya virus corona perlu sikap yang proporsional, seimbang, atau sikap tawasut. Sehingga tidak muncul dua sikap yang tidak bijak bahkan menyimpang dari agama.

Membenturkan antara agama dan medis merupakan sikap yang tidak benar, dalam realitas kehidupan menghadapi corona ada yang cuek atau mengabaikan (bahkan kadang sikap tersebut dibungkus dgn alasan iman atau tawakkal) tanpa ada ikhtiyar berupa pencegahan.

Sebaliknya ada juga bersikap lebay panik dan takut berlebihan (paranoid). Keduanya mrpkn sikap yang tidak benar.

Disinilah perlu dua perangkat, iman dan ilmu, dengan Iman maka akan melahirkan ketenangan, dengan ilmu yang memadai (ilmu atau pemahaman agama yang benar & ilmu tentang medis /kesehatan) sehingga bisa bersikap bijak dan benar.

Akan ada keimanan yang kuat disertai pemahaman tentang adanya hukum kausalitas (sebab akibat yang berlaku di dunia) atau hukum alam berupa ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlaku di dunia, dengan keimanan dan pemahaman trsbt akan muncul sikap tenang, tidak panik, bersandar dan selalu berdoa kepada Allah, disertai sikap waspada, antisipasi dan ikhtiyar majsimal untuk mencegah dlm menghadapi epedemi virus corona.

Semua apa yang terjadi di alam semesta berada dibawah kendali Allah, tapi juga perlu dipahami bahwa ada hukum kausalitas atau hukum alam sebagai ketetapan Allah yang berlaku di alam semesta (sunatullah), dan inilah yang berlaku dalam kehidupan manusia secara umum.

Karenanya Rosul mengajarkan kita untuk mencegah tersebarnya thoun, begitu juja Amirul mu’minin Umar ibn Khattab meninggalkan Syam dan kembali ke Madinah karna di Syam ada penyakit Tho’un. Demikian juga kebijakan Sahabat Nabi Amr Ibn Ash bgmn berikhtiyar secara lahiriyah dalam menanggulangi wabah penyakit (lihat beberapa hadis dan sejarah).

Tidak cukup hanya berdoa dan berpangku tangan menunggu pertolongan Allah semata, dalam menanggulangi penyakit menular harus juga disertai dgn pencegahan dan langkah medis lainnya.

Dalam Hikam Ibn Athoillah menyebutkan tentang dua kedudukan manusia, ada maqam tajrid (tidak bergantung kepada hukum kausalitas, dan tidak perlu berikhtiyar secara lahiriyah), dan ini sangat sedikit.

Ada juga maqam asbab (bergantung kepada hukum alam, dan perlu berikhtiyar) inilah yang berlaku pada umumnya manusia.

ارادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الاسباب من الشهوة الخفية,
وإرادتك الاسباب مع اقامة الله اياك في التجريد إنحطاط عن الهمة العلية

“Keinginanmu berada dalam maqam tajrid padahal Allah menempatkanmu di maqam asbab itu termasuk syahwat yang samar, sedang kamu ingin maqam asbab padahal Allah menempatkanmu di maqam tajrid itu adalah penurunan dari cita luhur”

Syekh Said Rhamadhan Al Buthi juga menjelaskan:

إن الجواب يتلخص في أن التعامل مع الله إنما يكون بالانسجام مع أوامره والتعامل مع نظامه الذي أقام هذا الكون على أساسه. وقد أمرنا إذا جعنا أن نأكل، وإذا ظمئنا أن نشرب، وإذا مرضنا أن نبحث عن الدواء، وأن نأخذ حذرنا مما يبدو أنه سبب للآلام أو الهلاك أو الأسقام. ثم أمرنا أن نعلم علم اليقين أن لا فاعلية إلا لله، وأن لا تأثير إلا بحكم الله، وأن نعلم أن الله هو الخالق لكل شيء والآمر له بأداء الوظيفة التي وكلت إليه أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Artinya, “Jawabannya dapat diringkas bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya (taat dan beriman sepenuhnya kepada Allah) . Sedangkan sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam. Allah memerintahkan kita untuk makan bila lapar, minum bila haus, mencari obat bila sakit, dan menjaga kesehatan serta waspada terhadap segala yang menyebabkan kita celaka dan sakit (termasuk waspada dan berikhtiyar dlm menanggulangi wabah corona) .

Kemudian Allah juga memerintahkan kita untuk mengetahui dengan ilmul yakin bahwa tidak ada satupun yang berbuat sesuatu selain Allah, tiada sesuatu berpengaruh selain dengan sunatullah. Kita juga diperintahkan untuk meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu di alam ini untuk menjalankan tugas sesuai amanah yang dititipkan padanya sebagai firman Allah pada Surat Al-Araf ayat 54, ‘Ketahuilah, di hanya milik-Nya segenap makhluk dan segenap urusan,’” (Lihat Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, 2003 M/ 1424 H, juz I, halaman 69-70)

Keseimbangan dalam bersikap sangat diperlukan agar kita tetap hidup tenang dan terhindar dari berbagai hal buruk. Smg Allah sll meridhoi kita. Aamiin.

 

Penulis : Kiai Tauhid Badri (Ibnu Badri Al Kraksaaniy)

Publisher : Sanusi

Komentar

Informasi Terbaru