oleh

Karomah Nyai Fatmah Mawardi : Cuci Beras Jadilah Emas

Karomah Nyai Fatmah: Cuci Beras Jadilah Emas

Nyai Hj.Fatmah Mawardi adalah ibunda KH.Badri Mashduqi (Pendiri Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo). Nyai Fatmah sering bangun malam, rajin ibadahnya dan biasa berpuasa.

Bagi Nyai Fatmah, tujuan hidup bukanlah bagaimana mendapatkan kedudukan jabatan ataukah harta benda yang kemungkinan membuat kita bahagia atau justeru malah sebaliknya.

Sebuah kisah, sebelum Nyai Fatmah mempunyai putra karena masih kondisi kehamilannya 7 bulanan, khususnya setiap malam terang bulan alias tanggal 15, beliau rutin melakukan puasa. Sekira pukul 1 malam, Nyai Fatmah mau nanak nasi. Ia cuci beras terlebih dulu dan, pada saat beras dikucek-kucek (beras sedang dicuci), tiba-tiba berasnya berubah jadi emas. Seketika itulah Nyai Fatmah menjerit karena yang beliau harapkan bukanlah harta benda berlimpah ruah, bukan intan permata, bukanlah emas walau sudah jelas-jelas di depan mata, tapi yang beliau harapkan adalah mempunyai keturunan yang alim, yang bisa menegakkan terutama dalam agama (Islam).

Jadi, jika Allah berkuasa beras pun menjadi emas atau pun intan permata. Inilah Kuasa Ilahi, Allah robbul ‘Izzati. Karomah Nyai Fatmah karena kuasa-Nya.
——————

Pesan Hikmah:
1. Janganlah terpesona oleh kemewahan dunia walaupun harta benda dan emas permata sudah berada di tangannya!
2. Selama kita hidup haruslah mempunyai tujuan yang jelas dan berorientasikan kepada akhirat!
3. Jadikan prinsip hidup yang tak tergoyahkan oleh empuknya dunia!
4. Sebagai orang tua, jadikanlah ibadah sebagai modal utama untuk memupuk pendidikan karakter generasi, sejak si cabang bayi berada dalam kandungan seorang ibu adalah bagian penting sebagai pelatihan diri seraya membekas terhadap kepribadian anak sehingga pada saat kelahiran putra-putrinya menjadi harapan yang berarti!
5. Berpikirlah dengan jernih sepanjang hidup, siang dan malam, walau di sekelilingnya tak terawasi oleh siapa pun. Karena dimana pun kita berada maka Allah selalu mengawasinya!

#Wawancara bersama K.Wahid di Karanganyar Paiton Probolinggo. K.Wahid adalah santri Alm.KH.Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo (1 Mei 2014)

Kraksaan, 7 Maret 2019

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru