oleh

Kasih Sayang dan Sifat Kelembutan Nyai Maryamah Anshori

KASIH SAYANG DAN SIFAT KELEMBUTAN NYAI MARYAMAH KRAKSAAN

Nyai Hj. Maryamah Anshori, pengasuh pertama santri putri Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo adalah sosok yang ramah, penuh kasih sayang dengan sifat kelembutannya, sikap serta tutur katanya, amat mengesankan.

Dulu, seketika saya dijadikan Bendahara dalam kepanitiaan perkawinan Nyai Shofiyah Badri (sekarang pengasuh putri Pondok Pesantren Ulil Albab, Gending Probolinggo), dan kala itu, saya merasa kurang pengalaman karena saya sendiri baru lulus Madrasah Aliyah. Perasaan yang muncul dalam diri saya, merasa “takut” apabila berhadapan langsung dengan Nyai Maryamah Anshori. Inilah pengalaman pertama saya berhadapan dengan Nyai Maryamah. Karena itu saya merasa “tako’ edukanin” (kawatir dimarahi). Karena perasaan penuh kekawatiran, saya pun sempat terlontar (menyampaikan) kepada sebagian panitia, agar jangan saya yang jadi Bendaharanya (maksudnya, tidak sanggup jadi panitia karena alasan merasa takut segala macam). Tentang ketidaksanggupan saya jadi panitia (Bendahara), kemungkinan ada yang menyempatkan menyampaikannya kepada Nyai, maka kemudian saya dipanggil ke _dhalem_ Nyai.

“Duduk dulu yaa!,” perintah Nyai dengan ramah dan tutur kata penuh kelembutan.

Saya pun duduk di kursi mengikuti perintah Nyai. Sungguh saya merasa gugup, penuh kekawatiran, tapi saya berupaya untuk tetap tenang dan berusaha tegar. Ternyata, Nyai betul-betul ramah dan dengan tutur kata yang lembut. Begitulah batin saya merasakan.

“Kenapa kok tidak mau jadi Bendahara?,” tanya Nyai dengan nada lembut. Saya tidak bisa menjawab apa-apa, masih merasa malu. Jadi perasaan malu hingga membuat diri tidak mampu menjawabnya.

“Sudahlah tetap kamu (maksudnya tetap jadi Bendahara-nya), tidak apa-apa,” tegas Nyai Maryamah dengan tutur kata lembut.

Tidak lama kemudian, Nyai menugaskan santri/haddam untuk mengambilkan _koleh_ (penganan yang dibuat dari tepung). “Ambilkan _koleh_ di dapur!,” perintah Nyai pada haddam agar secepatnya memberikan koleh pada saya. Kala itu saya makan koleh, pemberian dari Nyai Maryamah. Jadi begitulah kasih sayang Nyai Maryamah. Terasa sekali, kelembutan beliau dari sikap dan tutur katanya, amatlah terkesan dan mengesankan khususnya buat diri saya.

Dari kasih sayang dan sifat kelembutan Nyai Maryamah, beliau berarti mengamalkan seperti sabda Rasulullah, sebagaimana Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda.
يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dengan lafaz.
يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”

Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya dari Aisyah, Nabi bersabda.
إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek.”

Begitulah pelajaran berharga dari seorang Nyai Maryamah Anshori, kasih sayang dan sifat kelembutannya mencerminkan pemimpin sejati. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Aamiin.

Kraksaan, 22 Februari 2019

Penulis : Saifullah

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru