oleh

KH. Badri Mashduqi dan Prof. B.J Habibie dalam Perbincangan Menggagas Teknologi di Pesantren

KH.BADRI MASHDUQI DAN PROF. DR. ING. B J HABIBIE DALAM PERBINCANGAN MENGGAGAS TEKNOLOGI DI PESANTREN

KH.Badri Mashduqi adalah sosok yang berlatar pendidikan salaf, bergelut dalam pendidikan pesantren, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo (1967-2002) serta cukup dikenal dalam dunia tasawuf (sebagai Muqaddam Tarekat Tijaniyah di Indonesia), ia amat perhatian terhadap kondisi umat Islam, yang dalam pandangannya pada masanya, bahwa kondisi umat Islam dalam keadaan kronis karena tiga alasan yaitu kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Nah, kondisi inilah yang melatarbelakangi mengapa KH.Badri Mashduqi amat perlu menyampaikan gagasannya kepada Prof. Dr. Ing. B J Habibie ketika berkunjung sekira tahun 1992/1993 di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Mengetahui gagasan KH.Badri Mashduqi tersebut (tentang teknologi di pesantren), penulis berdasarkan pada dokumen berupa surat pribadi KH.Badri Mashduqi (yang oleh KH.Badri Mashduqi ditujukan kepada Mayjen TNI R. Hartono, Pangdam V Brawijaya, di Surabaya, Kraksaan, 6 Januari 1993). Berikut di antara isi suratnya:

“Pada saat Pak Habibie mengunjungi PP Nurul Jadid, saya sempat berbincang-bincang, yang di antaranya mengenai gagasan saya untuk mendirikan Pondok Pesantren Ketrampilan / Teknologi Dasar dan Menengah. Hal ini penting mengingat penyakit yang amat serius melanda umat Islam lagi kronis yaitu kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan yang perlu ditanggulangi secepatnya dengan cara meningkatkan ketrampilan dan kecerdasan umat Islam utamanya di bidang teknologi agar selamanya tidak reaksionil. Saya katakan ini dengan sportif sebagai koreksi kita ke dalam. Sebab berbicara masalah kecemburuan sosial akibat kesenjangan yang menimpa umat Islam gara-gara tiga penyakit kronis tersebut. Menurut hemat saya, satu-satunya jawaban yang paling tepat menghadapi tantangan itu adalah keterlibatan atau partisipasi nyata dari dunia Pondok Pesantren.”

Berdasarkan isi surat tersebut, semoga kita dapat memetik gagasan KH.Badri Mashduqi seraya berharap agar umat Islam semakin berkembang dan jaya, khususnya pesantren di Indonesia, lebih berkembang baik dalam peningkatan IMTAQ (iman dan taqwa) maupun dalam dunia IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Kraksaan, 11 Muharram 1441 H. /11 September 2019 M.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru