oleh

KH. Badri Mashduqi, Jatman dan Konsepsi Tarekat

KH.BADRI MASHDUQI, JATMAN DAN KONSEPSI TAREKAT

KH.Badri Mashduqi mempunyai kepedulian besar terhadap keberadaan Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN). Sesuai keputusan nomor 004/TMN/VI/1990, komposisi dan personalia Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahlit-Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah Jawa Timur periode 1990-1995, posisi KH.Badri Mashduqi berada di Mustafadl (Badan Pertimbangan). Berikut lengkapnya: Mustafadl: KH.Masnur Muhibbin (Surabaya), KH.Thohir Syamsuddin (Surabaya), KH.Syamsuri Badawie (Jombang), KH.Maisur (Kediri), KH.Mahfudz Anwar (Jombang), KH.Hudlori (Lumajang), KH.Alawi (Sampang), KH.Badri Mashduqi (Probolinggo), dan KH.Jamrozi (Kediri).

Ifadliyyah (Badan Permusyawaratan): Rois KH.Adlan Aly (Jombang), Wakil Rois: KH.Asrori (Tulungagung), KH.Abdullah (Bangkalan), KH.Ahyat Halimy (Mojokerto), KH.Munawir (Nganjuk), KH.Amin Muhyiddin (Sidoarjo); Katib: KH.Solihin Hamzah (Jombang), Wakil Katib: KH.Ahyat (Bangil), dan KH.Saifuddin Mahfudz (Probolinggo).

Imdloiyyah: Ketua: KH.Makki Maksum (Jombang), wakil ketua: KH.Abd.Hadi (Tulungagung), KH.A.Ali Bahruddin (Pasuruan), KH.Choirul Anwar (Jombang), KH.Chusen (Mojokerto), KH.Abd.Wahid (Sampang); Sekretaris: K.Abdullah Sadjad (Jombang), Wakil sekretaris: Ustadz M.Fauzan (Pasuruan), H.Hasanuddin (Kediri); Aminussunduq: K.Abd.Hamid Hasan (Jombang), Wakil Aminussunduq: Drs. M.Sholeh Al-jufri (Surabaya), KH.Sya’roni (Mojokerto).

Imdadiyyah: KH.A.Hasib Siroj (Sampang), KH.Isma’il (Ngawi), KH.Choiruddin Mahfudz (Probolinggo), KH.Athoillah (Madiun), KH.Munir Mawardi (Gresik), K.Agus Abd.Rochim (Jember), KH.Qusyairi Aly (Pasuruan), K.Mabrur (Karangploso Malang), dan KH.Amin Nafi’ (Sidoarjo). Tiga orang sesepuh penyusun komposisi dan personalia Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah Jawa Timur, yaitu KH.Adlan Aly, KH.Ridlwan dan KH.Ali Bahruddin.

Di antara keputusan rapat kerja Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah Jawa Timur, 25 Agustus 1990, di Surabaya, yaitu pelaksanaan Haul Akbar/Manaqib Kubro dan Triwulan diserahkan Idaroh Wustho dengan rincian sbb:
Untuk Triwulan pengajian kitab Azkiya diserahkan kepada Al-Mukarrom KH.Badri Mashduqi, Kraksaan Probolinggo; dan tiap tanggal 11 Rojab Haul Akbar/Manaqib Kubro diadakan di Masjid Ampel Surabaya.

Dalam konsepsi tarekat, KH.Badri Mashduqi menyatakan bahwa asas tarekat yang amat fundamental adalah menyibukkan diri dengan dzikrullah, sebab menurutnya, dzikrullah inti pokok amalan ibadah di dalam Islam. Dalam konteks inilah KH.Badri Mashduqi berpedoman kepada firman Allah: “Aqim as-shalata lidzikriy (Kerjakanlah shalat olehmu untuk berdzikir kepada-Ku).”

Memahami tentang dzikrullah dengan segala macam kegiatannya, menurut KH.Badri Mashduqi, adalah merupakan titik temu semua tarekat. Berdasarkan pemahaman inilah KH.Badri Mashduqi memberikan kesimpulan seraya beliau menyerukan sesama ahli tarekat, sebagai berikut:
“Sesama ahli tarekat perlu digalakkan penggalangan saling pengertian, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, saling dukung-mendukung, saling topang-menopang dan saling tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dengan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan sepele yang hanya akan memboroskan tenaga dan waktu di dalam soal-soal yang kurang berarti atau tidak berarti sama sekali. Malah perlu diprakarsai penggalangan koordinasi yang getol, efektif dan efesien di antara mereka untuk tujuan membangun manusia seutuhnya.”

Dalam hal menyikapi masalah khilafiyah pun, KH.Badri Mashduqi sangatlah tegas dan moderat. Baginya, menyikapi masalah khilafiyah janganlah sampai merusak tatanan yang berdampak kepada hubungan sesama. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Yang penting di atas segala-segalanya itu menetralisir dan membatasinya sehingga tidak meledak pertentangan yang meruncing sehingga menggangu ukhuwah Islamiyah, Imaniyah dan Ihsaniyah. Yang tidak boleh ada khilafiyah menghadapi Nash Qath’iyyah, sepanjang yang menyangkut masalah-masalah Ijtihadiyah tentu wajar adanya khilafiyah, asal qa’idah: ‘al-Ijtihad la yanqudhu bi al-ijtihad’ kita pegangi bersama niscaya khilafiyah tidak akan membawa ekses negatif yang membahayakan persatuan dan kerukunan umat…”

#Referensi hasil keputusan Idaroh Wustho Jatman Jawa Timur pada tahun 1990 dan makalah tentang tarekat.

Kraksaan, 20 Agustus 2018

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

 

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru