oleh

KH. Badri Mashduqi : “Kiai Hamid (Pasuruan) ini Tijani”

KH.Badri Mashduqi: “Kiai Hamid (Pasuruan) ini Tijani”

Siapa yang tidak kenal Kiai Hamid Pasuruan…? Seorang Intelektual muslim Belanda, penulis buku “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat,” yang pernah duduk bersama menjadi narasumber dalam diakusi panel tentang “Tarekat Tijani” dengan KH.Badri Mashduqi di Pesantren Buntet, Cirebon, pada tahun 1987, yaitu Martin van Bruinessen, menyatakan: “Banyak orang Jawa bercerita kepada saya bahwa beliau (Kiai Hamid Pasuruan) sebetulnya wali terbesar abad ke-20 di pulau Jawa ini. Wallahu a’lam.” Dan, KH.Badri Mashduqi (Pendiri & Pengasuh Pertama Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo [1967-2002], Muqaddam dan Sesepuh Tarekat Tijani di Indonesia), dengan singkat menyatakan, “Kiai Hamid (Pasuruan) ini Tijani.”

Sewaktu wafatnya Kiai Hamid Pasuruan, KH.Badri Mashduqi mengajak Ust.Nurhasan (alumni Badridduja), yakni alumni yang pernah menjabat kepala Pondok Pesantren Badridduja. Diajaknya Ust.Nur karena dia memang asli Pasuruan. Sebelum berangkat menuju Pasuruan, Kiai Badri tanya pada Ust.Nurhasan:

“Ustadz Nurhasan punya saudara di Pasuruan?”

“Ya, Kiai,” singkat Ust.Nur.

“Ya nanti saya ngampong wudlu’,” dawuh Kiai Badri pada Ust.Nurhasan.

Kisah Ust.Nurhasan: Waktu itu yang hadir di Pasuruan sekitar 10.000 jamaah. Sesampainya di Pasuruan, mobil Kiai Badri diparkir terlebih dulu di barat Alun-alun Pasuruan. Kiai Badri mau masuk ke tempat jenazah Kiai Hamid. Secara akal sangat tidak mungkin Kiai Badri bisa sampai begitu cepat, mendekat dan langsung menyentuh jenazah Kiai Hamid (dari saking berjubel-jubelnya puluhan ribu jamaah yang hadir di sana). Tapi ternyata, Kiai Badri bisa sampai dengan secepatnya, mendekat dan menyentuh jenazah Kiai Hamid.

Kisah lengkap Ust. Nurhasan begini: Sewaktu mau masuk, di tengah himpitan dan desak-desakan jamaah, telunjuk Kiai Badri Mashduqi ditaruh di atas pundak kanannya Ust.Nurhasan. Seketika itu Kiai Badri dan Ust.Nur secara bersamaan, tiba-tiba mendekat pada jenazah Kiai Hamid. Kala itu menjelang jenazah Kiai Hamid diangkat ke Mushalla.

Nah, kembali tentang dawuh Kiai Badri Mashduqi terkait Kiai Hamid adalah tijani alias sah menjadi ahli (pengamal) ajaran Tarekat Tijaniyah, menurut Ust.Nurhasan, ketika itu Kiai Badri masih berada di perjalanan, berada di dalam mobil menuju Pasuruan. Kepada Ust.Nurhasan, Kiai Badri dengan tegas menyampaikan, “Begini Tadz Nur, Kiai Hamid (Pasuruan) ini Tijani.” Lalu Kiai Badri menambahkan bahwa masuknya Kiai Hamid Pasuruan menjadi pengikut Tarekat Tijani 12 hari sebelum wafatnya.

Alfatihah…

#Sumber tulisan: Ust.Nurhasan Pasuruan (April 2016)

Kraksaan Probolinggo, 14 Muharram 1441 H./14 September 2019 M.

 

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru