oleh

KH.Badri Mashduqi: Saya Tidak Antusias Dicalonkan Jadi Anggota Legislatif

KH.Badri Mashduqi: Saya Tidak Antusias Dicalonkan Jadi Anggota Legislatif

KH.Badri Mashduqi pernah dicalonkan jadi anggota legislatif dari FPP, tapi kemudian mengundurkan diri dari pencalonan legislatif. Kiai Badri tegas menyatakan:

“Pengunduran diri saya dari pencalonan legislatif sebenarnya hal yang wajar, tidak ada yang spektakuler. Tanyakan saja pada semua orang apakah pernah melihat saya duduk di legislatif, baik di daerah tingkat II maupun tingkat I. Yang saya herankan mengapa pengunduran saya ini jadi bahan gosip di berbagai media massa. Coba orang mau mempelajari diri saya, apakah saya pantas menjadi anggota legislatif. Legislatif bukan karier saya dan itu bukan keahlian saya. Sekarang kenapa orang mesti ribut dengan langkah yang saya ambil ini.”

“Memang, sejak semula saya tidak antusias dicalonkan jadi anggota legislatif,” tambah Kiai yang dikenal kritis kepada pemerintahan Orde Baru.

“Perlu apa saya sebagai wakil rakyat tapi tidak representatif mewakili rakyat. Berdosa kepada Allah kalau saya tidak bisa menyuarakan kepentingan rakyat.”

“Yang menjadi malu saya duduk di DPR dan MPR adalah R (Rakyat)-nya itu. Kalau sudah menyandang predikat R, tapi tidak mau berpihak kepada rakyat, lantas harus mengeluh dan mengadu kemanakah rakyat itu jika ketidakberesan tidak bisa ditanggulangi oleh legislatif. Karena ketidakbecusan legislatif dalam mengayomi rakyat ini, kadang saya punya keinginan bertransmigrasi. Jadi, masalah-masalah yang tidak diberesi oleh dewan dampaknya cukup besar yaitu rakyat tidak tertarik lagi dengan keberadaan dewan.”

Begitulah di antara pernyataan-pernyataan Kiai Badri ketika menolak dirinya dicalonkan menjadi anggota DPR/MPR.

Berikut pesan-pesan Kiai Badri Mashduqi buat anggota DPR:

Tanggung jawab kepada rakyat:

“Sayyidul qaum khadimuhum (Bahwa pemimpin orang banyak adalah sebagai khaddamnya atau abdi pelayannya).”

Selain itu, sebagai anggota DPR wajib hukumnya mendalami ilmu politik:

“Kita bertindak jangan ngawur, jangan acak-acakan, harus dengan perhitungan ilmu dan sasaran yang cukup efektif dan efesien. Adalah haram bertindak yang demikian ini. Dengan demikian wajib bagi setiap anggota DPR selalu menuntut tambahan ilmu yang relevan dengan bidang dedikasi atau profesinya.”

Selain itu, pesan Kiai Badri, bahwa sebagai anggota DPR harus berjiwa atau bermental pejuang. Tentang perjuangan, berikut Kiai Badri menyatakan:

“Hidup itu kosong, baru berarti kalau kita isi dengan prakarsa-prakarsa, gagasan-gagasan, konsep-konsep, ide-ide yang positif. Tapi semua itu baru berarti kalau kita mampu menjelmakannya dan merealisirnya di alam realita. Untuk memindahkan ide ke alam realita mutlak diperlukan perjuangan.”

“Anggota DPR kita wajib bermental pejuang. Jangan cuma bermental pengusaha. Seorang pejuang akan selalu bergerak dan berusaha dengan lincah dan trampilnya, baik ada dana atau pun tidak, ke arah tercapainya cita-cita. Lain halnya dengan orang yang bermental pengusaha, baru dia bergerak kalau sudah ada dana. Tentu saja gerak yang dituntut oleh setiap perjuangan adalah gerak yang penuh dinamika dan romantika yang kontinyu dan konstan.”

Motor penggerak:

“Kita bergerak tidak asal bergerak tapi ada motor penggeraknya yang amat prinsipil buat perjuangan kita yaitu li i’laai kalimatillah, niat memenangkan kalimat tauhid di atas segala-galanya dengan cara melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kapan dan dimana saja.”

Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar:

Bidang perjuangan amat multi kompleks atau luas jangkauannya, tapi yang paling urgen di antaranya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Kalau sudah bidang ini dilalaikan hilanglah berkat wahyu.

Pentingnya menjaga kredibilitas dan integritas moral:

“Setiap DPR dari warga kita baik di tingkat II, di tingkat I maupun di tingkat pusat wajib menjaga kredibilitas dan integritas moralnya, jangan sampai menjual prinsip atau kehormatan hanya demi material, hindari pola hidup orang-orang sekuler yang hanya mengejar keuntungan material.”

“Dunia akhirat sekaligus, itulah sejauh cita-cita perjuangan setiap muslim. Lain halnya dengan kaum sekuler yang hanya duniawiah saja.”

“Jangan agama dan kehormatan dikorbankan untuk mengejar material, tapi berbuatlah sebaliknya. Itulah prinsip ajaran Islam.”

Semoga bermanfaat.

#Sumber tulisan: Dokumentasi dan Perpustakaan Syaikh Badri Institute

Kraksaan Probolinggo, 22 Muharram 1441 H. / 22 September 2019 M.

 

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru