oleh

KH. Badri Mashduqi Sosok Kiai Modern dan Komunikatif

KH.Badri Mashduqi di Mata Dr.Nurdina, S.Pd., MM: _”KH.Badri Mashduqi, Sosok Kiai Modern dan Komunikatif”

Mengetahui sosok _KH.Badri Mashduqi sebagai Kiai Modern dan Komunikatif_ dapat diketahui dari seorang Dr.Nurdina, S.Pd., MM. Sewaktu Ibu Nurdina mengisi seminar tentang organisasi dan tentang pendidikan di Pondok Pesantren Al-Mashduqiah Patokan Kraksaan, tepatnya pada hari Ahad, 24 Februari 2019, saya berusaha mewawancarainya. Dr.Nurdina, S.Pd., MM. adalah kelahiran Solo, 25 Juni 1955. Profesi beliau, di antaranya, pimpinan PPSDM Ardian, Dosen STIKES Surya Mitra Husada Kediri, Dosen Poltekes Gambiran Kediri. Berikut tentang KH.Badri Mashduqi di Mata Dr.Nurdina, S.Pd., MM:

KH.Badri Mashduqi adalah sosok kiai modern. Pandangan beliau sangat berbeda dengan kiai-kiai kebanyakan, karena beliau dikenal sebagai kiai yang bergelut dalam pendidikan pesantren tapi ternyata pola pikirnya modern, mempunyai pandangan jauh ke depan.

Jadi bagi saya, KH.Badri Mashduqi adalah satu-satunya kiai yang pada masa itu sebagai kiai modern. Saya tahu persis beliau kaya bacaan, seperti buku-buku kesehatan dan buku-buku umum lainnya banyak dibacanya. Selain itu, seorang Kiai di jaman dulu putra-putinya biasanya hanya dititipkan ke Pondok Pesantren tapi Kiai Badri menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah umum dan menginginkan putra-putrinya untuk sekolah sampai Perguruan Tinggi, malah putra-putranya disekolahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Syiria dan India. Wajarlah putra-putri beliau banyak berkiprah, tidak sebatas bergelut untuk memajukan pendidikan agama tapi juga pendidikan modern, seperti terlihat sekarang, Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan dan Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah Patokan. Begitu juga seperti putra-putri yang lainnya yang aktif dalam pendidikan pesantren dan juga pendidikan umum.

Tentang buku-bukunya, mana ada dulu Kiai salaf yang bergelut dalam kitab kuning dan mempunyai kebiasaan bacaan buku-buku umum. Beliau pernah bincang-bincang dengan saya tentang ilmu kesehatan. Saya pun bertanya kepadanya tentang hal tersebut, apa jawabnya, “Saya juga di rumah banyak buku-buku kesehatan, Bu Lek, buku-buku umum juga saya punya.”

Saya kenal KH.Badri Mashduqi pada tahun 1973. Sewaktu saya ke Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan, saya banyak bincang-bincang dengannya karena istri beliau, Nyai Maryamah Anshori masih ponakan saya.

Tentang masalah agama memang beliau sangat ketat tapi tentang masalah-masalah umum beliau lebih fleksibel dan moderat. Moderasi beliau dapat saya ketahui ketika pada masa dulu saya belum memakai kerudung, tapi Kiai Badri menyampaikan kepada saya dengan tetap enak dan tidak mengatur-ngatur harus begini dan begitu. Begitulah sosok Kiai Badri, meskipun konsistensinya terhadap agama amat tinggi tapi beliau fleksibel dan netral.

Kiai Badri adalah kiai besar. Dengan para birokrat banyak kenal tapi kepada rakyat biasa sangat ramah. Beliau sering ke Jakarta, dengan orang-orang kampung juga mudah melayaninya. Saya sewaktu ke Pondoknya (Badridduja), saya mengetahui sendiri. Kepada para tamu amat ramah dan dermawan. Memang beliau sangat perhatian manakala tamu-tamu ke Pondoknya, sampai urusan dapur, misalnya ada tamu belum disuguhi makanan berupa nasi maka beliau menanyakannya kepada Ibu Nyai (Nyai Maryamah), agar si tamu tersebut secepatnya mendapat suguhan berupa nasi. Bagaimanapun kesibukan beliau tapi masih menyempatkan menemui saya walau tidak begitu lama, “Tunggu Bu Lek, saya masih menemui tamu,” jawabnya perhatian.

Dalam sebuah perbincangan dengannya, pernah saya menanyakan tentang bagaimana diri saya. Karena pada waktu itu saya belum memakai jilbab atau kerudung. Apa jawaban Kiai Badri, “Bu Lek, pada waktunya Bu Lek akan sampai juga. Saya doakan Bu Lek mendapat hidayah,” jawabnya.

Kiai Badri juga aktif dalam silaturrahim, kalau beliau ke Jakarta dan pulangnya menyempatkanya di Kediri. Para pejabat banyak dikenalnya, tapi beliau adalah sosok kiai yang tidak mudah tergiur oleh jabatan. Ini menunjukkan bahwa beliau tetap berkomitmen memegang prinsip bahwa dirinya itu tidak mudah hanyut dalam kemewahan dunia. Jadi kesederhanaan beliau sungguh luar biasa.

Kraksaan, 24 Februari 2019

Penulis : Saifullah

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru