oleh

KH. Tauhidullah Badri : Harapan, Cita-Cita, Impian Selalu Ada Pada Kita..!

KH.Tauhidullah Badri: Harapan, Cita-cita, Impian Selalu Ada pada Kita!

Ada sesuatu yang selalu kita raih, kita capai bahwa harapan, cita-cita, impian ini selalu ada dalam diri kita.

Dalam perspektif atau dalam konteks dimana kita ingin membawa agama yang betul-betul berkembang atau pun dalam rangka untuk menebar kebaikan, maka, jangan ada yang namanya perasaan puas dengan apa yang sudah kita lakukan…!

Seandainya Rasulullah atau pun para sahabat pada zaman dahulu sudah merasa cukup dengan peradaban Madinah, maka rasa-rasanya Islam tidak akan sampai ke Indonesia, tidak ada Islam di belahan dunia yang lainnya. Cukup hanya di Madinah, di Mekah itu saja. Tapi, bahwa harapan, cita-cita, impian, baik pada diri Rasulullah, begitu juga para sahabat. Mekah kurang apa…? Masyarakatnya yang sedemikian buruk memperlakukan Rasulullah, yang ada Rasulullah diperlakukan sedemikian itu, diembargo secara ekonomi, bukan hanya dakwahnya yang dihalang-halangi bahkan jiwanya juga terancam. Tapi Rasulullah tetap masih punya harapan, punya impian bahwa suatu saat Mekah akan menjadi sebuah kota yang diridloi oleh Allah, menjadi kota yang diberkati oleh Allah, menjadi kota yang berada dalam naungan Islam. Dan masya Allah, Rasulullah membangun strategi di Madinah, membangun peradaban di Madinah, membangun SDM di Madinah. Alhamdulillah tidak berapa lama, akhirnya Rasulullah bisa berhasil menaklukkan kota Mekah tanpa meneteskan darah sedikit pun. Itu yang dikenal Fathu Mekah (Pembebasan kota Mekah).

Kota Thaif juga seperti itu. Siapa yang mengira, Rasulullah sudah diperlakukan buruk sedemikian rupa, bahkan yang namanya Malaikat itu sudah pesimis, Malaikat itu sudah tidak sabar: “Ya Rasulullah, kalau perlu saya lemparkan yang namanya gunung ini kepada penduduk Thaif, ya Rasulullah…” Tapi masya Allah, Rasulullah masih punya harapan bahwa dari sulbi mereka akan ada harapan untuk senantiasa menyebut Allah dan meng-esa-kan Allah SWT. Dan alhamdulillah, Thaif kemudian menjadi kota atau pun menjadi sebuah peradaban di bawah naungan agama Islam.

Intinya dari apa yang saya sampaikan bahwa harapan, impian, cita-cita, selalu ada: “Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah kita lakukan!”

Seandainya para sahabat masa dulu puas dengan Madinah, misalnya, tidak akan ada yang namanya kekuasaan, yang dulu di bawah superpower Romawi, Persia, tidak akan ada yang namanya peradaban Islam pada waktu itu sampai saat ini. Tapi apa yang terjadi…? Iran, yang dulunya adalah wilayah kekuasaan Persia, begitu juga Turki, Istambul, yang dulu berada di bawah kekuasaan Romawi, akhirnya sekarang berada di bawah naungan Islam.

Walau pun dalam konteks yang berbeda, intinya yang saya harapkan adalah *tantangan, rintangan yang kita hadapi bukan berarti bahwa kita (tidak perlu) pesimis untuk membawa Badridduja ke depan lebih baik dan lebih maju.*

Alhamdulillah, sekarang Badridduja sudah ada SMP, sudah ada SMA. Terus terang, (dulu) dalam bayangan saya, jangankan siswanya, bangunannya saja (memikirkannya) terasa bingung. Lha wong Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah (MA) mau diperluas ke barat, ke barat pun tidak ada jembatannya. Tapi alhamdulillah seiring dengan perkembangan waktu, SMP dan SMA sudah bisa terwujud. Siswanya (lulusan sekarang) sudah ada yang melanjutkan ke Cina dengan beasiswa. Diharapkan juga lulusannya ada yang mendapatkan beasiswa di dalam negeri.

Alhamdulillah (saat ini) bukan hanya lembaganya yang terintegral. Secara geografis, insya Allah antara barat (PP Al-Mashduqiah) dan timur (PP Badridduja) juga tidak lama lagi terintegral dengan pembangunan jembatan baru. Yang dulu ada Badridduja I (pusat) sementara Al-Mashduqiah dulunya bernama Badridduja 2. Dan diharapkan juga di Badridduja berdiri Perguruan Tinggi sehingga lulusannya tidak kebingunan mau masuk Perguruan Tinggi (saat ini masih proses).

Apresiasi juga, pada tahun lulusan sekarang (2018/2019), siswa lulusan MTs/MA bisa mencetak novelis. Harapan ke depan bisa lahir generasi yang dapat mengharumkan nama Badridduja.

Alhamdulillah juga saat ini terdapat alumni Badridduja (Ust. H. Fadhol Probolinggo) karya novelnya sudah ada yang diterima di Gramedia.

Marilah impian, cita-cita, harapan, selalu ada pada diri kita karena ini adalah spirit dan motivasi yang dapat menjadikan kita tidak hanya puas dari apa yang sudah ada. Teruslah ingin selalu berkembang, berkarya lebih baik lagi dan lebih banyak lagi. Dan senantiasa Fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan)…!

Dan akhirnya kita selalu memohon kepada Allah, semoga kita dimudahkan oleh Allah.

Terus terang, perjalanan atau pencapaian yang sudah kita dapat saat ini, tanpa pertolongan Allah tidak ada artinya. Apalagi (misalnya) tidak ada keberkahan di dalamnya, tidak ada artinya. Oleh karena itu kita harapkan semoga apa yang sudah kita raih, apa yang sudah kita dapatkan tetaplah berada dalam Ridlo Allah, tetap berada di dalam keberkahan. Insya Allah, dengan hal seperti itu, apa yang sudah kita dapatkan, apa yang kita raih, bisa bermanfaat sampai Yaumil Qiyamah.

Terakhir kita tetap berada dalam kesabaran, kita selalu berproses. Nabiyullah Musa sampai 40 tahun berdoa agar Fir’un bisa dikalahkan. Bayangkan 40 tahun berdoa, Fir’un beserta pasukannya. Rasanya kalau 40 tahun, kalau hitungan kita, waktu yang cukup lama. Kita bukan nabi, bukan siapa-siapa, kepingin cepat. Alhamdulillah, kalau kita mau jujur masya Allah, Allah telah memberikan kemudahan-kemudahan kepada kita, bahkan pertolongan yang tidak kita duga-duga, Allah berikan kepada kita.

Oleh karena itu, sekali lagi, kita tetap senantiasa memohon kepada Allah seraya kita berikhtiar. Semoga hajat kita semuanya (tepat di hari Jumat ini), semoga apa-apa yang menjadi harapan, cita-cita dan impian kita dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin.

#Rapat Yayasan Badridduja/Arisan, hari Jum’at, 13 Muharram 1441 H. / 13 September 2019 M., pukul 13.30 Wib – Selesai, tempat di rumah Ika Cahyanti (Guru SMA Unggulan Badridduja), Dusun Pantai RT 003 RW 002 Desa Klaseman Kec. Gending Kab. Probolinggo

Yayasan Badridduja

 

Penulis : Saifullah

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru