oleh

Kiai Badri Mashduqi Menyayangkan Umat Islam Minim Perhatian terhadap Kalender Islam dan Syiar 1 Muharram

Kiai Badri Mashduqi Menyayangkan Umat Islam Minim Perhatian terhadap Kalender Islam dan Syiar 1 Muharram

“Begitu pentingnya kalender Islam (Hijriyah), namun sayang sekali lagi sayang, perhatian kita umat Islam amat minim,” tegas KH.Badri Mashduqi dalam sebuh karya makalahnya yang dihimpun oleh lembaga Syaikh Badri Institute atau SBI.

Bagi KH.Badri Mashduqi, kalender Islam bukan sebatas catatan hari, bulan dan tahun. Akan tetapi, tegas Kiai Badri, kalender Islam adalah kepribadian atau identitas yang terandalkan mengenai dunia perkalenderan. “Sebab kalau catatan hari, bulan dan tahun mengikuti kalender umum (Masehi) itu namanya Islam tidak punya kepribadian atau identitas yang terandalkan mengenai dunia perkalenderan,” tegas KH.Badri Mashduqi, pendiri Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo.

Sebenarnya, bagi KH.Badri Mashduqi, minimnya perhatian umat Islam terhadap kalender Islam (Hijriyah) dapat diketahui karena umat Islamnya sendiri—dengan tanpa mengurangi kemeriahan peringatan hari-hari besar Islam yang lain seperti acara Maulid Nabi dan yang lain—minim perhatian terhadap penyambutan atas peringatan-peringatan 1 Muharram. “Bahkan kalau ditimbang dari penyambutan atas peringatan-peringatan peristiwa sejarah Islam lainnya seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an As-Syura dan lain sebagainya maka perhatian umat Islam terhadap peristiwa Hijrah dengan 1 Muharram-nya jauh ketinggalan. Padahal dipilihnya peristiwa hijrah sebagai tonggak sejarah di dalam kalender Islam adalah mengandung hikmah dan makna yang amat luhur. Keluhuran makna inilah amat disayangkan kurang kita perhatikan dan kurang dihayati dengan serius,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Akibat dari minimnya perhatian umat Islam terhadap syiar 1 Muharram—istilah yang digunakan KH.Badri Mashduqi—murid-murid Madrasah “canggung atau kikuk” apabila ditanya tentang nama-nama bulan Islam. “…bahkan amat disayangkan sekali murid-murid Madrasah kalau ditanya tanggal berapa bulan Qamariyah, bulan apa? Mereka canggung atau kikuk menjawabnya. Bukankah ini skandal yang cukup memalukan?,” tegas KH.Badri Mashduqi. Karena itulah KH.Badri Mashduqi berharap agar kita lebih memeriahkan dan membudayakan peringatan 1 Muharram yang disertai penggalian yang mendalam akan hikmah dan makna hijrah itu sendiri tanpa mengorbankan atau mengurangi peringatan-peringatan lainnya (tentang hari-hari besar Islam).

Dengan demikian, KH.Badri Mashduqi berharap besar terhadap umat Islam dimanapun, sampai ke pelosok-pelosok desa, untuk menyemarakkan syiar sambutan atau peringatan 1 Muharram. Bahkan harapan Kiai Badri, pentingnya memasyarakatkan sambutan atau peringatan 1 Muharram yang diselenggarakan dari lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi Islam, baik Ormas (Organisasi Masyarakat) maupun Orpol (Organisasi Politik) agar ikut menggugah untuk memasyarakatkan kegiatan-kegiatan peringatan 1 Muharram. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Sudah saatnya kita memasyarakatkan sambutan atau peringatan 1 Muharram sampai ke pelosok-pelosok desa sambil menggugah semua lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi Islam baik Ormas maupun Orpol agar berbuat sama sehingga syiarnya tidak kalah bahkan lebih dari syiar tahun baru Masehi. Hal ini penting untuk mencegah umat Islam jangan latah sehingga lupa kepada miliknya sendiri karena terpesona dan terpukau terhadap milik orang lain (selain Islam).”

Kraksaan, 1 September 2019

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru