oleh

Kiai Badri Mashduqi, Olahraga, Seni dan Budaya

KH.BADRI MASHDUQI, OLAHRAGA, SENI DAN BUDAYA

KH.Badri Mashduqi adalah kiai yang cinta olahraga, seni dan budaya. Kecintaannya sejak ia mondok. Ketika mondok di Pesantren Sidogiri, beliau mencintai olahraga bulutangkis. Teman akrabnya adalah Ali Hasan dari Pasuruan. Kala Ali Hasan mengikuti kemana perginya untuk mengikuti pertandingan bulutangkis, Kiai Badri-lah bisa dipastikan ikut bersamanya. Tentunya pada saat mengikuti pertandingan bulutangkis di luar pesantren, keduanya dengan tetap mengikuti prosedur dan aturan pesantren. Berikut penuturan teman akrab Kiai Badri, Ali Hasan, yang diceritakan kembali oleh putranya bernama Fakhrurrozi alias Pak Roni (Kalikajar Wetan, Paiton, Probolinggo), “Kiai Badri waktu dulu di Sidogiri di kelasnya, beliau adalah yang paling muda, tapi kemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran tidak tertandingi oleh teman-temannya yang lain. Beliau paling gemar main bulutangkis, kalau ada pertandingan di sekitar Sidogiri, beliau pasti ikut Bapak saya (Ali Hasan). Waktu itu pondok masih belum setertib seperti sekarang, jadi kalau ijin keluar di waktu malam masih diijini oleh pengurusnya. Dan dalam forum Bahsul Masail, beliau juga adalah bintangnya.”

Ketika Kiai Badri mondok di Pesantren Nurul Jadid Paiton, dia senang bermain badminton dan pencak silat. Hal demikian diakui oleh seorang pamannya, KH.Najmuddin, Jember, bahwa KH.Badri Mashduqi mempunya hobi badminton.

As’ad, santri Nurul Jadi (sekarang di Desa Bucor Pakuniran Probolinggo), yang sekelas dengan Kiai Zuhri Zaini (pengasuh PP Nurul Jadid)—As’ad dan Kiai Zuhri sempat jadi murid KH.Badri Mashduqi—berkisah bahwa KH.Badri Mashduqi ketika menjadi kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, menggantikan kepala Pondok sebelumnya, Sayyid Hamid (pendiri Pondok Pesantren Nurul Qur’an, Patokan, Kraksaan), pada masa Kiai Badri menjadi kepala Pondok inilah dilaksanakan ajang pelombaan dengan beragam jenis perlombaan, selain lomba bidang keagamaan seperti lomba baca kitab dan Al-Qur’an, juga terdapat perlombaan seni, olahraga dan budaya:
1. Lomba Pidato, dengan beberapa jenis bahasa, bahasa Madura, bahasa Indonesia, bahasa Bali, bahasa Jawa dan bahasa Inggris.
2. Lomba Pencak Silat
Menariknya, dalam lomba Pencak Silat, Kiai Badri mengontrol sendiri dengan menggerakkan santri-santri agar semangat mengikuti lomba ini. Bagi santri yang pemalu atau ragu-ragu mengikuti lomba ini maka Kiai Badri langsung mendorong sendiri, yakni bagi santri yang pemalu oleh Kiai Badri didorongnya dari belakang sehingga santri yang pemalu tergerak, tampil spontan atau reflek, akhirnya berada di tengah-tengah arena lomba pencak silat. Mau tidak mau santri ini, yang awalnya malu-malu, akhirnya tampil dengan berani, tergerak untuk ikut adu tanding di tengah-tengah arena perlombaan pencak silat.
3. Pementasan Drama
Dalam lomba drama, yang dilombakan semacam _ludruk_ atau kesenian Madura, _Main Dadu._ Dan yang jadi pelakunya adalah santri dari Madura. Pada waktu itu, yang diceritakannya tentang _Gundhek._
4. Lomba Kaligrafi.
5. Lomba Bulutangkis
6. Karnaval
Acara karnaval dengan berkelililng Pesantren Nurul Jadid, seperti atau layaknya _mantenan,_ dan diiringi hadrah.
Perlombaan di masa Kiai Badri, tidak hanya di kalangan santri di dalam pesantren sendiri tapi juga umum, seperti yang ikut dari luar pesantren, dari Pajarakan, Kraksaan, dan daerah lainnya. Ketika inilah Pesantren Nurul Jadid semakin dikenal banyak orang. Melalui Imtihan ini semua santri semakin antusias dalam setiap mengikuti ajang perlombaan. Acara Imtihannya ditempuh selama dua hari dua malam. Malam kedua adalah acara pengajiannya dan keesokan harinya libur pesantren.

Seni dan budaya dari seorang ulama KH.Badri Mashduqi misalnya berupa syair-syair. Kesenian baginya merupakan alat atau media untuk berdakwah. Diantara karya-karya syair KH.Badri Mashduqi seperti, _Sungguh Sayang Tidak Sembahyang, Obat Hati, dan Syair-syair tentang Santri._

KH.Badri Mashduqi juga cinta benda-benda bernilai sejarah atau museum. Suatu ketika, Kiai Badri dan istrinya, Nyai Maryamah, berwisata ke Solo. Di keraton Solo malah Kiai Badri sempat duduk di atas kursi keraton/kursi kerajaan Solo. Hal demikian dikisahkan oleh Ust.Isma’il, Kraksaan.

Adanya Lambang Thariqat Tijaniyah, yang sebagian adalah merupakan karya KH.Badri Mashduqi, yaitu berupa, tulisan _As-Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijani r.a,_ dengan seni kaligrafi Arabnya menggunakan, _Kufi,_ indah dipandang mata dan sungguh menakjubkan.

Begitulah sosok KH.Badri Mashduqi, tidak sebatas keahliannya dalam kegiatan keagamaan tapi terhadap seni, olahraga serta budaya juga mencintainya.

#Hasil wawancara bersama KH.Najmuddin di Jember, putra Alm.Bpk Ali Hasan (Pak Roni, di Kalikajar Wetan Paiton Probolinggo), Kiai As’ad, di Desa Bucor Pakuniran Probolinggo, dan Ust.Isma’l, Kraksaan Probolinggo.

Kraksaan, 25 Februari 2019

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru