oleh

Kiai Muzayyan: Agar Karya Santri di Bukukan

Dalam kesempatan rapat MA Badridduja Kraksaan, sempat saya sampaikan:

“Banyak karya siswa hasil tugas pelajaran Bahasa Indonesia, sekarang saya menyimpannya dengan rapi. Tapi sayang sekali hasil tugas siswa tersebut tidak dibukukan,” kira-kira begitulah yang saya ingat, rapat MA berlangsung kala itu.

Posisi jabatan Kiai Muzayyan sebagai kepala MA Badridduja, di samping beliau dengan kesibukannya untuk mengurusi pembangunan gedung baru. Sekarang gedung MA Badridduja yang baru sudah megah dan indah dengan taman-taman bunganya. Gedung yang baru itu karena perannya kala beliau menjabat sebagai kepala.

Memang karya siswa MA Badridduja hasil tugas pelajaran Bahasa Indonesia banyak sekali, sampai sekarang saya simpan dengan rapi seperti, puisi, pantun, cerpen dan lain-lain. Semuanya itu saya simpan dengan berbentuk bundelan, betul-betul rapi, di kantor MA Badridduja (kantor baru).

Beberapa hari berikutnya, Kiai Muzayyan berpapasan dengan saya, tepatnya di depan kantor MA Badridduja (kantor MA yang lama, berada di pojok utara halaman madrasah). Pas setelah saya melangkahkan kaki mau memasuki kantor MA, beliau menyampaikan:

“Mari sudah, Tadz, kalau mau dibukukan karyanya siswa,” tegas KH.Muzayyan.

“Saya, Kiai,” jawab singkat saya.

“Ada dana kalau hanya untuk menerbitkan buku,” tambah beliau.

Sampai sekarang, KH.Muzayyan sudah wafat (1 Februari 2020), cita-cita beliau agar karya siswa dicetak dan dibukuan belum kesampaian.

 

Penulis : Saifullah

Publisher : Sanusi

Komentar

Informasi Terbaru