Kisah Karomah Kiai Badri Mashduqi Masuk Botol

oleh

KISAH KAROMAH KIAI BADRI MASUK BOTOL

Ketika KH.Badri Mashduqi mondok di Pesantren Nurul Jadid Paiton, Ahmad Tohir, seorang teman akrab KH.Badri Mashduqi menyatakan bahwa, Kiai Badri betul- betul masuk botol. Ahmad Tohir menegaskan, bahwa dirinya adalah teman sekamarnya. “Yang namanya orang masih muda ada saja angan-angan ataupun keiginan-keinginan yang tinggi,” kisah Ahmad Tohir. “Engko’ terro enga’a Abah, Ket (Saya pingin seperti Abah, Ket [panggilan ‘Ket’ adalah pangilan akrab Lora Badri kepada teman akrabnya, Ahmat Tohir]),” tegas Lora Badri pada Ahmad Tohir. “Nyaman mon bisa maelang, nyobi’ oreng ta’ bisa etengaleh (Enak kalau bisa menghilang, cubit orang tidak bisa kelihatan),” tambah Lora Badri.

Keinginan Lora Badri tersebut ternyata diketahui—dengan kemampuan kasyaf—KH.Zaini Mun’im, “Pekerjaan se neh-aneh reyya ta’ kenneng eangguy. Tak aguna andhi’ keinginan neh-aneh, Cong (Pekerjaan yang aneh-aneh tak bisa digunakan. Tak berguna punya keinginan aneh-aneh, nak),” pesan Kiai Zaini Mun’im penuh perhatian.

Perlu diketahui bahwa yang namanya Abah Lora Badri, Kiai Mashduqi, adalah dikenal sebagai wali Rijalul Ghaib, ‘menghilang,’ sampai sekarang pun tanpa diketahui dimanakah pesarean (kuburan)-nya.

Akhirnya, Lora Badri ditugasi oleh KH.Zaini Mun’im untuk memberi wejangan-wejangan, pendidikan-pendidikan dasar keagamaan, ke tiap-tiap Musholla, di daerah Paiton, mulai dari Binor sampai ke Jaban bersama temannya, Ahmad Tohir. Tugas Kiai Zaini ini dilakukan oleh Lora Badri sampai beberapa tahun lamanya.

Sekitar tahun 1959/1960, Lora Badri mulai merenggang atau menjauh dengan temannya, Ahmad Tohir. Rupanya Lora Badri ingin kembali lagi, seperti keinginan-keinginan semula, yaitu mau ikut Abah-nya. “Ket, sementara be’en je’ tedhung bi’ engkok ye Ket. Kamar dhinna’ bennya’ cobhena. Dina be’en tedhung e langger baih sambi ako’-buko’ (Ket, sementara kamu jangan tidur dengan saya ya, Ket. Kamar di sini banyak hantunya. Biarlah kamu tidur di Musholla saja sambil berselimutkan sarung),” kata Lora Badri pada Ahmad Tohir.

“Beh, ma’ dhe’ iyye, Ket. Reken engko’ soro tedhung kadibi’ e langger (Lho, kok begitu, Ket. Berarti saya disuruh tidur sendirian di Musholla),” jawab Ahmad Tohir.

“Iyye lah Ket. Be’en tedhung e langger be’en lah! (Ya sudah Ket. Kamu-lah yang tidur di Musholla!),” tegas Lora Badri.

Dari itulah, Lora Badri sering menyendiri di kamarnya. Karena Ahmad Tohir sudah mengetahuinya bahwa Lora Badri selalu menyampaikan keinginan-keinginan untuk mengikuti Abahnya, Kiai Mashduqi, yang “menghilang,” dikenal sebagai wali Rijalul Ghaib, maka Ahmad Tohir tidaklah tinggal diam, berusaha menyelidikinya, kemana perginya dan entah apa yang mau dilakukan Lora Badri.

Suatu ketika Lora Badri dipanggil oleh gurunya, KH.Zaini Mun’im, berada di Musholla (masjid). Di sinilah Lora Badri dibimbing dengan pendidikan khusus oleh Kiai Zaini.

“Arapa be’en ma’ en-malaen? (Kenapa kamu kok beda? [baca, tidak seperti semula yang biasa berkumpul dengan temannya]),” tanya KH.Zaini Mun’im.

“Bunten, Keae, korang sae beden (Tidak, Kiai, kurang enak badan),” jawab Lora Badri.

“Mon gun korang sae beden minta pecet la beres (Kalau cuma tidak enak badan minta-lah pijet sudah sembuh),” tegas Kiai Zaini.

Suatu kejadian, malam Kamis, Lora Badri kelihatan keluar dari kediaman KH.Zaini Mun’im. Pada pertengahan malamnya, Lora Badri aleng-leng, atau mengelilingi di seputar cangkru’an/kamarnya. Dan pada malam Jum’at-nya Lora Badri kelihatan lagi dari kediaman KH.Zaini Mun’im. Kemudian Lora Badri menuju cangkru’annya lagi. Tidak lama dari itu, tiba-tiba terdengar suara lantang dari KH.Zaini Mun’im, “Be’en reyya daddiyye reng ta’ aguna? Je’ ngangguyyen kareppa dibi.’ Saonggunna oreng katha be’en reyya mateppa’ ummat! (Kamu ini mau jadi orang yang tak bergunakah? Jangan hanya maunya sendiri Sesungguh orang semacam kamu ini memperbaiki umat!),” lantang KH.Zaini memberikan teguran pada Lora Badri dengan penuh perhatian.

Teguran lantang dari Kiai Zaini itulah karena kejadiannya, Lora Badri betul-betul masuk botol. Ahmad Tohir menyatakan bahwa memang di dalam kamar Lora Badri terdapat botol bersegi empat, (Red). Di botol inilah Lora Badri masuk sebadan yang tersisa (anggota badan yang tidak masuk dalam botol) hanya kakinya saja.

Dari kejadian inilah Lora Badri banyak mendapatkan tugas dari Kiai Zani untuk lebih bergiat dalam mengajar santri, dan yang ditugasi oleh Kiai Zaini untuk menemani (atau mengawasi) Lora Badri adalah Lora Hasyim Zaini.
———————

Hikmah yang dapat dipetik:
1. Setinggi apa pun kehebatan ilmunya tetaplah hormat dan taat pada guru. Seperti Lora Badri meski diberi karomah dari Allah, seperti kemampuan dia bisa masuk botol, tapi dia tetap hormat dan taat kepada guru. Saran guru Kiai Zaini itulah yang selalu dijadikan pijakan oleh KH.Badri Mashduqi.
2. Lora Badri adalah contoh figur yang memiliki kepedulian besar dalam membina umat. Besarnya dia tidak hanya dimiliki dirinya saja tapi dijadikan bekal untuk membina umat, dan berjuang dalam dakwah untuk agama, bangsa dan negara.

#Ahmad Tohir, Binor Paiton Probolinggo

Kraksaan, 1 Maret 2019

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana