oleh

Menarik, KH Tauhidullah Badri Kupas Teori Abraham Maslow dalam Konteks Kehidupan Santri

 

KRAKSAAN (AHAD WAGE, 23/02/2020)—Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo Jawa Timur, KH Tauhidullah Badri, kaya akan teori keilmuan.

Melalui acara rutin “Istighotsah Ahad Wage” yang berlangsung di masjid Darussalam Pondok Pesantren Badridduja, acara dimulai pukul 13.30 WIB, dan dalam rangkaian Istighotsah ini, beliau mengawali ceramahnya, di hadapan dewan guru, santri, wali santri dan segenap alumni Ponpes Badridduja.

“Bahwa dalam hidup manusia tidak terlepas dari dua unsur yaitu unsur jasmani dan rohani,” tegas Kiai yang pernah mempunyai pengalaman pendidikan di Damascus Syiria.

“Kalau mau jujur, dalam hidup ini kita lebih mengurus kebutuhan jasmani apa rohani?,” tanya KH Tauhidullah di depan semua santri dan pada semua yang hadir.

“Jasmani…,” jawab para santri dengan tanggap.

Menarik lagi, tentang dua unsur yaitu jasmani dan rohani, KH Tauhid menambahkan lebih rinci dengan mengambil teori kebutuhan dasar manusia dari psikolog Abraham Maslow yaitu, “Pemenuhan Kebutuhan.”

Sekilas tentang seorang Maslow, pria kelahiran 1 April 1908 di Brooklyn, New York, Amerika Serikat ini mulai mengembangkan gagasan dan menciptakan teorinya yang paling terkenal, yaitu tentang hierarki kebutuhan atau pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hierarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hierarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan fisiologis atau dasar
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan untuk dihargai
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kelima hal tersebut, menurut KH Tauhidullah, jika tidak terpenuhi salah satunya maka dapat memungkinkan seseorang itu depresi, stres atau kalau bahasa anak muda sekarang, ‘galau,’ bahasa Maduranya dapat disebut, “sompek.” Bahkan, tegas Kiai Tauhid, (jika tidak terpenuhi 5 kebutuhan manusia tersebut, Red.) akan berdampak menjadi gila.

Diakui oleh KH Tauhid, bahwa antardua unsur yaitu jasmani dan rohani terdapat benang merah dengan teori Maslow. Pertama, kebutuhan fisiologis. Kebutuhan ini, Kiai Tauhid memberikan contoh, seperti kebutuhan makan dan minum.

Kedua, kebutuhan akan keselamatan dan keamanan, “Mengapa kita bekerja misalkan untuk kebutuhan beli rumah, ya karena kita ingin terhindar seperti terhindar dari hewan buas, agar terpenuhi rasa aman dan kebutuhan keselamatan,” Kiai Tauhid dengan gamblang mencontohkan di hadapan hadirin.

Ketiga, kebutuhan cinta dan rasa memiliki. Dalam konteks ini, KH Tauhidullah sedikit mengungkap seperti lirik atau lagu yang tak asing lagi, dengan judul “Renungkanlah” yang merupakan ciptaan Muhammad Mashabi atau M. Mashabi.

“Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa..,” ungkap KH Tauhid di hadapan hadirin.

Selengkapnya, berikut :

RENUNGKANLAH
Pencipta : M. MASHABI
Dipopulerkan oleh: DEWI YULL

Lirik Lagu Dangdut Renungkanlah

Rasa cinta pasti ada
Pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini
Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Renungkanlah…

Perasaan insan sama
Ingin nyinta dan dicinta
Bukan ciptaan manusia
Tapi takdir yang Kuasa
Janganlah engkau pungkiri
Segala yang Tuhan beri

Rasa cinta pasti ada
Pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini
Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Renungkanlah…

Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Takkan hilang selamanya
Sampai datang akhir masa
Renungkanlah

Keempat, kebutuhan akan penghargaan. Dalam hal ini, KH Tauhid menyebutkan sebagai “harga diri.”

“Kalian misalnya diberi uang satu juta tapi harus dengan begini dan begini, kalau kalian akalnya sehat, mau apa tidak?,” tanya Kiai Tauhid pada santri.

“Tidak mau,” jawab santri serentak kompak.

Kelima, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. “Karena itu kalian tampil ikut lomba pidato misalnya, karena kalian ingin tampil atau mengaktualisasikan kemampuan dirinya.”

Melalui acara Istighotsah Ahad Wage pada 23 Februari 2020 ini, banyak ilmu, teori dan pengetahuan yang dapat dipetik hikmah serta pelajaran berharga dari ceramah KH Tauhidullah. Berikut petikan-petikan di antara isi ceramah KH Tauhidullah Badri, yang penulis tulis kembali.

“Kemampuan yang dimiliki kalian haruslah dikembangkan dan jangan dibatasi untuk diaktualisasikan!” tambah KH Tauhid memberi semangat.

“Membangun manusia seutuhnya adalah tanggung jawab Pondok Pesantren (Badridduja), bukan hanya sehat jasmani tapi juga sehat rohani”

“Dengan kita melaksanakan Istighotsah ini agar kita senantiasa tidak sebatas sehat jasmani tapi juga sehat rohani.”

“Mengapa guru-guru kita di Pesantren Badridduja mengajarkan kalian dengan akhlak karena kalian tidak sebatas sehat jasmani tapi sehat rohani sekaligus”

Selamat membaca dan mengamalkan!

Kraksaan, 23 Februari 2020

Editor : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi

Komentar

Informasi Terbaru