oleh

Mendiskusikan “Film The Santri” Dengan Akhlakul Karimah

Mendiskusikan “Film The Santri” Dengan Akhlakul Karimah.

💧Catatan : KH. Tauhidullah Badri Al Kraksaaniy.

Akhir-akhir ini ramai orang memperdebatkan film The Santri, berbagai kalanganpun ikut nimbrung, dari kalangan intelektual atau Ulama’ sampai orang awampun ikut berkomentar. Pembahasanpun melebar, ditinjau dari berbagai sudut pandang dan menggunakan analisa dari berbagai ragam keilmuan. Dari sudut sosial, budaya, ekonomi, moral atau agama (aspek aqidah, fiqih, da’wah dll). Padahal keberadaan filemnyapun belum diketahui secara utuh.

Perbedaan pendapat adalah sunnatullah, tidak bisa dihindari. Ada yang menolak dengan alasan agar aqidah dan moral ummat tidak rusak, tentunya dengan mengutip pendapat sebagian fuqaha’. Ada juga yang mendukung karena dianggap sebagai syiar dan sebagian dari uslub da’wah, dan tentunya juga dengan mengutip pendapat sebagian fuqaha’ atau ulama’ yang lain. Dari persoalan pacaran sampai hukum masuk gereja menjadi pembahasan. Penulis bukan ingin membahas hal trsbt, karna belum tahu alur cerita tersebut secara utuh. Tapi yabg ingin penulis sikapi, bagaimana semestinya kita memperdebatkan atau mendiskusikan sesuatu agar mendatangkan manfaat dan kemaslahatan bagi ummat dan bangsa.

Persoalan yang sedang diperdebatkan terkadang memang ada yang bersifat khilafiah, sehingga perlu di sikapi secara ilmiah dan tetap mengedepankan akhlakul karimah. Seperti misalnya tentang hukum masuk gereja.
Ada beberapa pendapat ulama tentang hukum hal ini, sebagaimana saya kutip dari beberapa sumber:

Ada yang mengharamkan, sebagaimana pendapat ulama Hanafiyyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah. Madzhab Hanafiyyah beralasan bahwa gereja itu tempat maksiat yang banyak setannya.

Kedua. Ada yang membolehkan. Sebagaimana pendapat ulama madzhab Hanbali dan sebagian ulama Syafi’iyyah seperti Syech Zakariyya Al-Anshari dalam kitab Tuhfatul Muhtaj (2/424), Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj (2/63), Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Qulyubi wa Umairah (4/236). Beberapa ulama ini beralasan bahwa tidak ada dalil yang jelas (sharih) yang melarang seorang muslim masuk gereja. Justru yang ada dalil memperbolehkan di mana saat Umar bin Khattab menyuruh orang-orang Nasrani memperluas gereja agar dapat digunakan orang muslim bermalam atau berteduh.

Karba masalah ini bersifat khilafiah, persoalanya adlh bgmn kita berdiskusi tentang hal tersebut.
Fenomena berlangsungnya diskusi atau perdebatan tentang film the santri mrpkn bagian dari dialektika kehidupan, dan akan bermanfaat dan bisa menjadi bagian dari proses pendewasaan ummat islam, agar terealisasi ummat yang semakin dewasa, saling menghargai perbedaan pendapat dan semakin ada kesadaran bahwa perbedaan itu adalah rahmat.
اختلاف امتي رحمة
Hal itu bisa terjadi jika perdebatan ini berlangsung bukan dengan malah saling menuduh, mencela dan mempertajam perpecahan antar ummat islam. Tidak membenturkan antara NU dan Non NU, tidak mudah memvonis dan tanpa perlu menuduh radikal dan anti toleransi kepada beberpa pihak yang tidak setuju dengan film trsbt.

Konkritnya, hal tersebut akan terwujud jika dlm dialektika ini ada beberapa hal:

– Dalam perdebatan atau diskusi ini berlangsung dengan berlandaskan Akhlakul karimah, dengan lemah lembut, santun dan tetap menjaga hak, harga diri dan kehormatan seseorang.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Artinya, “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim)

– Dengan niat ikhlas

– Dilakukan secara obyektif, tidak ada ta’assub (fanatik buta). Karena sikap fanatik dapat membutakan mata hati seseorang dan menyebabkan dirinya kehilangan obyektifitas dalam menilai sesuatu.

– Yang dicari adalah kebenaran dan kemaslahatan, tidak ada tendensi dan bukan didasari fanatisme kpd figur, dan bukan untuk kebesaran dan kemenangan kelompoknya. Dalam hal ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyampaikan:

اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ , وَ لاَ تَعْرِفِ اْلحَقَّ بِالرِّجَالِ

“Ketahuilah kebenaran, niscaya kamu akan mengetahui siapa yang berada di atasnya. Karena kamu tidak akan mengetahui kebenaran dengan menjadikan seseorang sebagai patokan!”

– Hindari Emosi atau mengikuti hawa nafsu.
Ketika emosi atau amarah diperturutkan maka akan membawa kepada keburukan.
Ibnu Abbas bertutur: “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlu hawa. Sesungguhnya bermajelis dengan mereka hanya akan menyakitkan hati.”

Dan diskusi tersebut tidak akan membawa manfaat. Malah yang ada menimbulkan permusuhan dan perpecahan.

Ibrohim An Nakho’i mengingatkan: “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlu hawa, sesungguhnya bermajelis dengan mereka menghilangkan cahaya keimanan, menghilangkan wajah kebaikan, dan mewariskan permusuhan di hati orang-orang mukmin.”

– Tidak memaksakan pendapat. Dan inilah akhlah salaf, sbgmn diceritakan oleh Ibnu Qoyyim bahwa kedua sahabat Nabi Ibnu Mas’ud berbeda pendapat dengan Umar Radhiyallahu anhuma, sekitar seratus permasalahan. Namun tidak ada di antara mereka yang memaksakan pendapat antara satu dan yang lainnya. Tidak pula mereka marah.
Apalagi yang diperdebatkan adalah masalah khilafiyyah atau persoalan yg masih diperselisihkan oleh Ulama’. Hal ini sesuai sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ulama’dibawah ini:

Khatib al Baghdady menyampaikan dari Sufyan bahwa ia berkata, “Apa yang diperselisihkan para ulama fikih maka aku tidak melarang seorang pun dari ikhwanku untuk mengambilnya.” (al Faqiih wal Mutafaqqih: 2/69)

Yahya bin Sa’id berkata, “Para mufti terus berfatwa menghalalkan ini dan mengharamkan itu. Yang menghalalkan tidak memandang bahwa yang mengharamkan telah binasa karena menghalalkannya, dan yang menghalalkan tidak memandang bahwa yang mengharamkan telah binasa karena mengharamkannya.” (Jaami’ Bayaan al Ilmi wa Fadhlihi: 2/902-903)

Imam Nawawi berkata, “Kemudian para ulama hanya mengingkari permasalahan yang diijmakkan, adapun yang diperselisihkan, maka tidak ada pengingkaran.”
(Syarh An Nawawi ‘alaa Muslim: 2/23)

As Suyuthi menyebutkan sebuah kaidah dalam masalah ini dan berkata, “Masalah yang diperselisihkan tidak diingkari, yang diingkari adalah yang diijmakkan.” (Al Asybaah wa An Nadzaa`ir: 107)

– Dilandasi ilmu. Perdebatan dalam wilayah Aqidah, Fiqih ataupun Uslub da’wah selayaknya hanya orang yang punya kapasitas atau otoritas keilmuan sajalah yang berhak berbicara. Jika permasalahan yang didiskusikan bukanlah bidang yang dikuasai, maka diam adalah hal yang terbaik.

Akhirnya, memang kewajiban seorang mukmin adalah menasehati saudaranya tatkala melakukan keburukan. Namun dia tidak berkewajiban untuk memaksanya mengikuti nasehatnya. Sebab, itu bukanlah bagiannya. Seorang pemberi nasehat hanyalah seseorang yang menunjukkan jalan.
Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Jangan ada kebencian diantara kita.
Stop saling menuduh dan mencaci.
Kembangkan semangat ukhwah & saling menasehati.
Mari duduk bersama, musyawarah dan saling menasehati.
ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ

“Agama adalah nasehat.”(HR. Muslim).

Ibnul Atsir menjelaskan,

ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ

“Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka.” [An-Nihayah 5/142]

Semoga Bermanfaat 🙏🌹🌠

 

Penulis : KH. Tauhidullah Badri

Publisher : Sanusi Wardana

Editor : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru