oleh

Mengenang Kesederhanaan & Kesabaran Sang Guru (part. 1)

Mengenang Kesederhanaan & Kesabaran Sang Guru (part. 1)
KH. Moh. Muzayyan Badri

“KALAU BUKAN KARENA ABAH, SAYA SIAPA..?”

Suatu ketika, seperti biasanya alfaqir dan temen pengurus yang lainnya punya jadwal kerja bakti untuk membantu para tukang bangunan yang sedang merehab sebuah bangunan dipondok pesantren kami tercinta Badridduja, ya. . Kebetulan hari itu kami, yang dikomando oleh Alm. Ust. Sukarib, mendapatkan tugas untuk memindahkan batu bata dihalaman sekolah untuk lebih dekat kelokasi bangunan yang sedang direhab, dikala kami sedang memindahkan batu bata tsb sambil bercanda sesama pengurus, tanpa dikira disiang itu guru kami KH. Muzayyan Badri dengan memakai kaos oblong putih, bersarung & menggunakan caping warna biru mendatangi kami untuk juga ikut membantu memindahkan batu bata tsb.

 
Tentunya melihat pemandangan tersebut, Sebagai santri kami merasa tidak enak dan merasa sungkan melihat guru besar kami membantu memindahkan batu bata tsb, dan akhirnya sebagai senior dari kami dan juga orang yang dekat dengan beliau, Alm. Ust. Sukarib memberanikan diri untuk menegor beliau agar tidak usah repot2 membantu kami dalam pekerjaan tsb seraya berkata “mohon maaf kyiai.. Saya rasa kyiai tidak usah repot-repot ikut membantu kami memindahkan batu bata, dikwatirkan jika ada tamu atau wali santri yang datang dan melihat kyiai seperti ini, gimana jadinya nanti?”
Namun jawaban KH. Muzayyan Badri, diluar dugaan kami semua yang saat itu sedang istirahat, dengansenyum khasnya beliau menjawab “Ya.. Sudahlah gak usah dipikirkan masalah itu, saya ini bukan siapa siapa, saya sama dengan kalian, kebetulan saja saya ditakdirkan terlahir sebagai putranya KH. Badri Masduqi, klo bukan karna abah, saya ini siapa?”

 
Jawaban tsb sungguh membuat kami semua menunduk malu, beliau telah memberikan pelajaran yang sangat berharga didalam kehidupan kami sebagai santrinya, bahwa tidak ada hal yang patut dibanggakan dan menjadi bahan kesombongan terhadap keistimewaan dan kelebihan yang kita punya, karna semua adalah taqdir dan pemberiaan dari Allah SWT yang patut disyukuri dengan menggunakannya untuk lebih mendekatkan lagi kepada Dzat yang Maha mempunyai segalanya..
Wallahu A’lam bisshowab. (fm_pen)

 

Penulis : Fathul Mubin

Publisher : Sanusi

Komentar

Informasi Terbaru