oleh

Mengenang Kesederhanaan & Keteladanan Sang Guru (part. 2)

Mengenang Kesederhanaan & Keteladanan Sang Guru (part. 2)
KH. Moh. Muzayyan Badri

“TEGURAN YANG MENGGELITIK”

Untuk menerapkan kedisiplinan dan membentuk generasi santri yang berakhlakul karimah, tentulah sebuah pondok pesantren mempunyai aturan aturan yang membatasi tindak tanduk prilaku santrinya untuk mencapai tujuan tsb, mulai dari cara bergaul, tingkah laku, cara berpakaian dan cara tatanan rambut pun semuanya telah diatur dalam peraturan tsb. Hal ini juga berlaku pada Pesantren kami, Badridduja.

Dipagi itu, ketika para santri melakukan apel sebelum masuk kekelas masing masing, beliau KH. Moh. Muzayyan mendapati beberapa santri putra yang rambutnya agak panjang dan tidak tertata rapi, sebagai tanggung jawab beliau, untuk membentuk karakter santri yg dituju sperti tertera diatas, maka beliau memanggil salah satu ust guna memanggil santri putra yang kebetulan rambutnya panjang dan tidak tertata rapi untuk kumpul didepan kediaman beliau.

Setelah mereka terkumpul semua, maka satu persatu dari santri tsb, beliau pangkas dan rapikan rambutnya dengan tangan beliau sendiri, disaat itu beliau didampingi oleh istri tercinta beliau, dan juga didampingi oleh Ust yang mendapat tugas untuk mengumpulkan santri, disaat beliau lagi sibuk merapikan rambut santri, Istri beliau yang kebetulan melihat dan mendapati Ust tsb, juga berambut agak panjang dan tidak tertata rapi, beliau menyeletuk seraya bergurau dan tersenyum mengatakan kepada KH. Muzayyan Badri “Rambut Ustadnya juga panjang lo kak..” mendapat perkataan dan guyonan sprti itu, beliau seraya tersenyum menjawab.. _” ya.. Sudah lah dek.. Biar Ustadnya Paham sendiri..”_ 😊😊.

seketika itu pula, Ustad yang dimaksud menunduk malu seraya tersenyum, untuk kemudian merapikan dan memotong rambutnya sendiri.

Hal ini memberikan pemahaman bagi kita, bahwa beliau KH. Muzayyan Badri memberikan pelajaran tentang bagaimana bersikap didepan anak didik, beliau tidak mau menegur dan memarahi secara lagsung dan mempermalukan seorang guru didepan santri santrinya terhadap kesalahan yang dibuat, namun beliau menegur dengan cara berguyon dan tersenyum..(fm_pen)

 

Penulis : Fathul Mubin

Publisher : Sanusi

Komentar

Informasi Terbaru