oleh

Mengkritisi Konsep Milk Al Yamin Syahrur & AA… (Oleh KH. Tauhidullah Badri)

Mengkritisi Konsep Milk Al Yamin Syahrur & AA…

“Sucinya & Sakralnya Pernikahan-Upaya Mengangkat Martabat Manusia”

Catatan : KH. Tauhidullah Badri Al Kraksaaniy (Probolinggo)

Disertasi yang sangat kontroversial (di UIN Suka Yogya) dari seorang yg berinisial AA (dosen IAIN Surakarta) akhir-akhir ini membuat heboh ummat islam, dan tentunya sudah cukup berhasil membuat AA terkenal. Sesuai pepatah Arab:
«خالف تُعرف»
“Berbuatlah yang kontroversial niscaya kamu akan terkenal”.

Memperluas pengertian Milkl Al yamin tidak hanya sebagai budak rampasan perang dan selanjutnya dengan dasar pandangan tersebut ia melegalkan zina atau menjustifikasi seks luar nikah. Pemikiran tersebut merupakan pendapat yang tidak memiliki pijakan nash ataupun tidak mengikuti manhaj yang benar dan tidak berlandaskan pendapat para ulama’ yang otoritatif.

Sosok Muhammad Syahrur adalah pemikir liberal (Muslim Kiri) asal Damaskus, Syria. Tokoh yang dijadikan rujukan ini merupakan tokoh yang memang sangat kontroversial di Syiria, pendapatnya sering keluar dari pendapat mainstrem. Dan secara keilmuan ia bukanlah orang yang memiliki otoritas atau kapabelitas untuk berbicara bidang agama. Dia bukanlah mufassir, muhaddis atau seorang faqih, karna latar belakang pendididikanya adalah jurusan teknik sipil (al-handasah al-madaniyah) dari Unversitas di Moscow Rusia dan Irlandia.
Sehingga pendapat pendapatnya sering tidak berdasar, liar, dan cenderung ceroboh, karena memang tidak menggunakan manhaj yang benar dan refrensi yang mu’tabar.

Konsep Milkl Al Yamin atau kepemilikan budak sahaya memang ada dalam Al Qur’an, walaupun sebenarnya secara realitas sudah tidak relevan lagi, karna secara realitas, perbudakan sdh tdk berlaku lagi di berbagai belahan dunia termasuk di negara muslim sendiri.

Dalam disertasinya AA menyatakan seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat. Landasannya adalah konsep Milk Al Yamin yang ditafsirkan Syahrur. Dia menafsirkan ulang konsep Milk Al Yamin yang menjadi prinsip kepemilikan budak di awal Islam menjadi hubungan dua manusia yang didasari satu komitmen atau didasari suka sama suka.

Muhammad Syahrur disebut menemukan 15 ayat Alquran tentang Milk Al Yamin. Dia melakukan penelitian dengan pendekatan hermeneutika hukum dari aspek filologi dengan prinsip antisinonimitas. Hasilnya, Milk Al Yamin tidak lagi berarti keabsahan hubungan seksual dengan budak. Dalam konteks modern, konsep tersebut telah bergeser menjadi keabsahan memiliki partner seksual di luar nikah yang tidak bertujuan untuk membangun keluarga atau memiliki keturunan. Konsep Milk Al Yamin saat ini biasa disebut menikah kontrak dan samen leven atau hidup bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan.

Dlm disertasi trsbt jg dijelaskan bahwa konsep Milk Al Yamin versi Syahrur tidak serta-merta membenarkan seks bebas. Ada berbagai batasan atau larangan dalam hubungan seks nonmarital (sex diluar nikah), yaitu dengan yang memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan seks di depan umum, dan homoseksual.

Tapi, bagaimanapun juga pandangan tersebut sangat berbahaya, krn ujung ujungnya tetap melegalkan perzinahan, atau hubungan diluar nikah. Dan inilah yang diingatkan oleh Rasulullah:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

”Sungguh akan ada sebagian dari ummatku yang menghalalkan ZINA, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”

Walaupun dlm pendapat trsbt seolah olah untuk kemaslahatan, tapi sebenarnya merusak tatanan moral dan sendi sendi kehidupan sosial. Hal ini sesuai firman Ilahi:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka berkata : “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah ! Sesungguhnya mereka orang-orang yang membuat kerusakan, akan tetapi mereka tidak menyadarinya” (QS al-Baqarah:11-12)

Konsep Milk Al Yamin adalah sisa-sisa atau tradisi yang berlaku sebelum Nabi Muhammad, dan Rosul dengan berbagai cara berangsur-angsur meniadakan perbudakan (misalnya dengan adanya sangsi, anjuran dan janji pahala yang besar bagi yang membebaskan budak). Para ulama’ sudah menjelaskan tentang konsep tersebut secara gamblang, Sehingga tidak ada peluang untuk menyelisihinya. Sehingga apa menjadi alasan sebagian majikan di Saudi yang dengan paksa melakukan zina atau memperkosa beberapa orang TKW, dengan dasar karna para TKW dianggap sebagai budak (karna sudah dibeli atau dibayar) itu tidak bisa dibenarkan oleh syariat.

Berbeda dengan pernikahan yang merupakan syariat atau ajaran dari Allah secara langsung yang bersifat abadi dan sangat dianjurkan untuk melakukannya.
Pernikahan merupakan ikatan dan jalinan suci antara dua insan.
Pernikahan bukan hanya sarana untuk menyalurkan hasrat biologis, masih banyak lagi tujuan ya g lebih mulya dari itu.
Pernikahan juga merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan. Pernikahan adalah juga sarana menjaga keberlangsungan generasi penerus dan memelihara keturunan. Pernikahan menyatukan dua insan dan dua keluarga dalam sebuah ikatan suci.
Ikatan suci tersebut direalisasikan dalam akad nikah.
Adanya kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul”, bukan sekedar aqad atau ikatan biasa, tapi sebuah ikatan kuat yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dengan istilah “Mitsaqan Ghalidzha” (perjanjian yang berat, kokoh dan kuat).
Dalam Al-Quran Mitsaqan Ghalidza disebutkan Hanya tiga kali.
Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul yang bergelar ‘Ulul Azmi’ (QS. Al Ahzab: 7).
Kedua, ketika Allah melakukan perjanjian dgn Bani Israil dgn mengangkat bukit Tsur diatas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (QS. An Nisaa: 154).
Ketiga, ketika Allah menyatakan tntg ikatan pernikahan (QS. An Nisaa’: 21).

Akad nikah merupakan ikatan antara suami dan istri dalam sebuah perjanjian dan ikatan syar’i, aqad nikah adalah ikrar yang sakral dan suci. Ada amanah yang harus dipikul, ada hak dan kawajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang dan sepadan.

Adanya Syariat pernikahan sesuai dgn fitrah manusia dan sarana untuk menjunjung tinggi martabat, kehormatan atau kemulyaan ummat manusia, berbeda dengan konsep Milk Al Yamin sebagai alternatif yang bersifat sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis. Dimana konsep tersebut ditolerir oleh islam karna keadaan zaman dahulu yang masih memberlakukan perbudakan. Dan islam justru berupaya meminimalisir dan meniadakan perbudakan secara alamiyah. Tentunya upaya mengembangkan konsep Milk Al Yamin versi Syahrur justru akan merendahkan martabat manusia dan berdampak kepada degradasi moral. Na’udzubillah. Salam Ibn Badri

 

Penulis : KH. Tauhidullah Badri (Pengasuh PP. Badridduja)
Publisher : Sanusi Wardana 

Komentar

Informasi Terbaru