Sabtu , November 17 2018
Home / Berita & Opini / Menjelang Kepulangan Jemaah Haji Beristighfar

Menjelang Kepulangan Jemaah Haji Beristighfar

Menjelang Kepulangan Jamaah Beristighasah..

Sehari menjelang pulang ke Indonesia jamaah haji kloter 27 embarkasi Surabaya, kab Probolinggo mengadakan istighosah bersama, bertempat di musholla hotel. Acara tersebut sekaligus diisi pengarahan dan pembekalan oleh pembingbing tentang proses kepulangan jamaah menuju Indonesia.

Berbagai bacaan berupa istingfar, sholawat Nabi, asmaul husna dan beberapa lantunan doa serta dzikir lainnya terdengar dibaca bersama dgn penuh khusyu’ dan khudhu’.

Kata “istighotsah” استغاثة secara bahasa berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan, dgn bentuk (wazan) “istaf’ala” استفعل atau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron غفران yang berarti ampunan ketika diikutkan pola istif’al menjadi istighfar استغفار yang berarti memohon ampunan.
Secara istilah istighotsah berarti “thalabul ghouts” طلب الغوث atau meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Istighasah dilakukan ketika sedang menghadapi problem berat, atau dalam rangka agar dijauhkan dari musibah atau bencana.

Sedangkan do’a scr bahasa dr دعا يدعو yang artinya, طلب حضار إ yaitu ” memohon kehadiran ” dan di sebutkan pula bahwa do’a adalah ” ما يدعى به من الله yaitu apa-apa yang di gunakan untuk menyeru Allah berupa perkataan. Ini adalah do’a secara bahasa. Secara istilah adalah طلب ما ينفع أ و طلب ما د فع ما يضر ” permohonan untuk sesuatu yang bermanfaat atau untuk menolak sesuatu yang madharat “.
Perbedaan antara istighostah dan do’a adalah : istighostah tidak lain dalam rangka untuk di selamatkan dari suatu bencana, adapun do’a maknanya lebih umum, artinya setiap istighostah adalah do’a sedangkan do’a tdk semuanya istighosah.

Istighotsah merupakan kebiasaan Rosulullah, sbgmn disebutkan dlm hadis:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ « يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Anas berkata: “Jika Rasulullah menemukan kesulitan, beliau berdoa ‘Wahai Dzat yang maha hidup kekal dan maha mengurusi segala sesuatu, Dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan.” (HR al-Turmudzi)

Acara istighotsah merupakan cerminan dari hadis Nabi.

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيَبْعَثَنَّ اللهُ أَقْوَامًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي وُجُوْهِهِمُ النُّوْرُ عَلَى مَنَابِرِ اللُؤْلُؤِ يَغْبِطُهُمُ النَّاسُ لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ قَالَّ فَجَثَّى أَعْرَابِيٌ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ حِلَّهُمْ لَنَا نَعْرِفْهُمْ قَالَ هُمُ الْمُتَحَابُّوْنَ فِي اللهِ مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى وَمِنْ بِلَادٍ شَتَّى يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ يَذْكُرُوْنَهُ. رواه الطبراني وإسناده حسن.
“Sungguh Allah akan membangkitkan kaum di hari kiamat, wajahnya bersinar, dikelilingi umat manusia. Mereka bukan Nabi dan Syahid.” Lalu seorang sahabat bertanya: “Tunjukkan siapa mereka?.” Nabi menjawab: “Mereka orang yang saling cinta karena Allah, dari suku dan daerah berbeda, berkumpul untuk dzikir kepada Allah.” (HR al-Thabrani, hadis hasan)

Seusai pelaksanaan istighosah dilanjutkan dgn mauidhah, dan puncaknya jamaahpun saling bersalaman dan saling meminta maaf, suasanapun semakin haru, bahkan banyak jamaah ketika bersalaman saling bertangisan. Tentunya kebersamaan selama 40 hari rasanya banyak menorehkan kenangan indah diantara mereka. Kenangan yg tak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Dan semua jamaahpun berharap semoga kebersamaan yg sdh terjalin menjadi persaudaraan dan kebersamaan yg kekal abadi berlanjut nanti di Surga. Aamiin.

Makkah Haji 2018.

 

Oleh : KH. Tauhodullah Badri

 

  1. Publisher : Sanusi Wardana

Check Also

Pendirian dan Pemikiran Kh. Badri Mashduqi terhadap Pancasila

*PENDIRIAN DAN PEMIKIRAN KH.BADRI MASHDUQI TERHADAP PANCASILA* KH.Badri Mashduqi adalah sosok yang memiliki sikap tegas, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *