oleh

Merindukan Kiai Badri dan Gus Dur: Berbeda Pandangan Tetap Rangkulan dan Saling Mencintai

Merindukan Kiai Badri dan Gus Dur: Berbeda Pandangan Tetap Rangkulan dan Saling Mencintai

KH.Badri Mashduqi (pendiri dan pengasuh pertama pesantren Badridduja Kraksaan periode 1967-2002) dan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur), keduanya cukup dikenal berpemikiran kritis tapi keduanya tetap menjaga etika dan saling menghargai. Bagi keduanya, berbeda pendapat adalah dinamika kehidupan yang mencerdaskan dengan tetap saling menjaga, saling mencintai, saling bersalaman, bahkan kalau perlu saling rangkulan.

Ketika Gus Dur menjadi ketua umum PBNU, tidak jarang perbedaan pendapat muncul ketika itu dan membuatnya para ulama atau kiai terpanggil untuk menyikapinya. KH.Badri Mashduqi, walaupun dikenal kritis kepada Gus Dur, terutama apabila menyangkut dengan syariat Islam, tapi Kiai Badri tetap mencintai Gus Dur dengan sepenuh jiwa.

“Saya itu cinta Kiai Abdurrahman Wahid dan cinta saya menyeluruh. Tapi kalau berkaitan dengan syariat saya keras kepada Kiai Abdurrahman Wahid,” tegas KH.Badri Mashduqi kepada Gus Dur, sewaktu keduanya menghadiri acara kegiatan di pesantren Zainul Hasan Genggong pada 15 November 1995.

Bagaimana jawaban Gus Dur menanggapi Kiai Badri: “Kita harus saling mencintai.”

Pantas saja seperti KH.Moh.Hasan Syaiful Islam (pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong) mengagumi keduanya: “Saya ingat betul, waktu almarhum KH.Badri Mashduqi bersama Gus Dur di Genggong. Keduanya sama-sama tokoh. Walaupun berbeda pemikiran, Gus Dur dan KH.Badri Mashduqi tetap saja bersalaman, tidak ada sentimen pribadi. Begitu juga dengan Pak Harto (red.). Itu yang kadang-kadang disalahartikan oleh sebagian masyarakat. Dan saya kira, beda pendapat itu wajar-wajar saja selama disikapi dengan baik. Saya kagum dan salut kepada KH.Badri Mashduqi. Gus Dur dan KH.Badri Mashduqi malah berangkulan dan bersalaman erat-erat. Dia sangat kritis dan pendapatnya mengagumkan. Dan yang mengagumkan lagi, dia bukanlah tipe yang suka ngerasani orang. Kritisisme KH.Badri Mashduqi adalah kritisisme sejati. Dia ikhlas, berwawasan luas, dan mengagumkan. Itulah yang perlu ditiru oleh generasi-generasi berikutnya.”

Bahkan, Kiai Badri sendiri mengakui bahwa Gus Dur-lah sebagai imamnya mengenai perjuangan Gus Dur soal demokrasi, HAM, dan keterbukaan: “Saya kepada Gus Dur sebagai imam, respek mengenai perjuangannya soal Demokrasi, HAM, dan keterbukaan.” Begitulah cara Kiai Badri menghargai Gus Dur (Kraksaan, 1995).

Baik Kiai Badri maupun Gus Dur, keduanya memang telah tiada. Kedua tokoh tersebut telah memberikan pelajaran berharga kepada generasi bangsa. Berbeda pendapat tapi saling menghargai dan saling mencintai. Tentu kita merindukan kedua tokoh tersebut.

#Referensi: Dokumentasi dan Perpustakaan Syaikh Badri Institute

Kraksaan Probolinggo,
20 Muharram 1441 H. / 20 September 2019 M.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru