Sabtu , November 17 2018
Home / Berita & Opini / Mina, Akan Selalu Kukenang… (Oleh KH. Tauhidullah Badri)

Mina, Akan Selalu Kukenang… (Oleh KH. Tauhidullah Badri)

Mina, Akan Selalu Kukenang…

Prosesi haji tak ubahnya madrasah, di dalamnya sarat dgn tarbiyah atau pendidikan, pembekalan, pembiasaan, pelatihan langsung dari Allah swt kpd hambaNya. Sebagai sebuah tarbiyah banyak sekali materi yg sdh diajarkan dan diterapkan.

Ketika berikhram terdapat pelajaran tentang ma’na, hakekat dan tujuan hidup di dunia. Didalamnya ada pesan dan ajaran Ilahi tentang perlunya menanggalkan ego dan semua atribut kebesaran duniawiyah, dan ada juga spirit serta anjuran agar selalu membersihkan diri dari dosa dan berbagai perbuatan hina (tazkiyatunnafs) agar bisa sampai (wushul) kpd Allah yg maha suci dan mulya.

Ketika wuquf di Arafah pelajaran tersebut diatas smkn dipertegas, diperteguh dan dimantabkan lagi. Dibangun kesadaran yg benar tentang jati diri kita yg sebenarnya, serta kesadaran akan selalu perlunya berikhtiyar menjadi insan mulya (“fiahsani taqwim”).
Di Arofah digugah nurani dan rohani kita untuk smkn menyadari keagungan dan kebesaran Allah, dan betapa berhajatnya kita kepadaNya, wuquf menjadi momentum untuk bermuhasabah, menyadari, mengakui, menyesali dan memperbaiki diri atas kesalahan dan dosa yg sdh kita lakukan.

Begitupun ketika di Muzdalifah, pikiran dan hati kita diajak untuk tetap fokus kpd tujuan hidup dan kpd dzat yg memberi kehidupan (yaitu Allah) dlm kondisi dan situasi yg sprt apapun. Di Muzdalifah bukan hanya menghimpun batu untuk melontar tapi juga menghimpun semua potensi yg Allah berikan (petunjuk agama, kematangan ruhani, kebeningan hati, kejernihan berpikir yg selalu diterangi cahaya atau hidayah Ilahi) sebagai modal menghadapi godaan dan rintangan dlm kehidupan (setan, dunia, nafsu dsb).

Di Mina tdk hanya terdapat ibrah atau pelajaran serta pesan moral, terdapat juga napak tilas perjalanan kehidupan Nabi-Nabi (khususnya keluarga Nabi Ibrahim). Di Mina ada pembiasaan, pelatihan, praktek secara simbolik (dgn melempar batu) sebagai sebuah pelajaran tentang perlunya membangun komitmen dan perlunya selalu ada ikhtiyar untuk melawan kekuatan negatif yaitu setan dan kroninya.
Ketika mabit di Mina, berhimpun di kemah dgn kondisi yg apa adanya, didalamnya kita didik dan dilatih dan praktek secara langsung untuk hidup bersama dgn berbagai karakter manusia yg berbeda beda dgn semangat ukhwah atau pesaudaraan disertai dgn satu niatan semata-mata mencari ridho Ilahi.

Berbagai pelajaran, pesan, pembiasaan atau aplikasi atau praktek langsung trhdp nilai nilai positif, adlh merupakan modal dasar agar dlm kehidupan yg kita lalui senantiasa selalu berada dlm orbit dan kesadaran Robbani (kesadaran untuk selalu berorintasi kpd mencari ridho Ilahi, bersandar dan dan berjalan di jalan yg diridhoiNya). Agar kita tdk mengalami degradasi moral, kehampaan dan kekeringan spritual, dan tdk lupa akan tujuan hidup kita yg sebenarnya.

Prosesi mabit di Mina sdh hampir berakhir, pagi ini usai melontar jumrah jamaah kab Probolinggo (kloter 27 dan 27) akan meninggalkan Mina, kembali menuju hotel di Makkah (nafar sani).

Hasil dari tarbiyah trsbt diharapkan akan semakin meningkatkan kualitas diri sebagai makhluq yg mendapat predikat semuli-mulia makhluq (fiiahsani taqwim), dan tdk terjerambab mnjd makhluq yg rendah dan hina (asfala safiliin). Dgn tarbiyah selama haji Smkn sehat, cerdas dan matang secara rohani. Menjadi pribadi robbani (inilah diantara barometer haji mabrur).

Pagi insyaallah sekitar jam 7 jamaah Probolinggo berangsur angsur akan meninggalkan Mina, diangkut menuju Makkah. Tapi kenangan, pelajaran dan pesan moral di Arofah, Muzdalifah dan Mina tdk akan pernah ditinggalkan dan tdk akan hilang selamanya. Ia senantiasa selalu di Qalbu.
Dan smg nanti akan menjadi saksi bahwa kami pernah berhimpun di tempat tersebut untuk memenuhi perintahMu Ya Rabb. Smg keberadaan dan berbagai kegiatan yg kami lakukan berbuah pahala dan menjadi sarana menuju SurgaMu Ya Rabb. Selamat tinggal Mina, smg kami bisa berjumpa lagi denganmu. Aamiin. 😭

Mina 2018.

Oleh KH. Tauhidullah Badri
Publisher : Sanusi Wardana

Check Also

Pendirian dan Pemikiran Kh. Badri Mashduqi terhadap Pancasila

*PENDIRIAN DAN PEMIKIRAN KH.BADRI MASHDUQI TERHADAP PANCASILA* KH.Badri Mashduqi adalah sosok yang memiliki sikap tegas, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *