oleh

Pentingnya Memahami Sejarah Kalender Islam

KH.BADRI MASHDUQI: PENTINGNYA MEMAHAMI SEJARAH KALENDER ISLAM

“Kalau catatan hari, bulan dan tahun mengikuti kalender umum (Masehi) itu namanya Islam tidak punya kepribadian atau identitas terandalkan dalam dunia perkalenderan.”

KH.Badri Mashduqi, _Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo (1967-2002)_

Dari pernyataan KH.Badri Mashduqi itu jelas sekali bahwa memahami sejarah dalam dunia perkalenderan Islam bukan sebatas tentang ditetapkannya tanggal, bulan dan tahun. Jauh dari itu, KH.Badri Mashduqi memandang, ditetapkannya kalender ini karena inilah merupakan kepribadian atau identitas Islam dan umat Islam itu sendiri. Karena itulah beliau amat menyayangkan apabila umat Islamnya sendiri justru kurang memperhatikan tentang sejarah tersebut.

KH.Badri Mashduqi menyatakan bahwa kalender Islam baru ditetapkan setelah berlalu 17 tahun peristiwa hijrah yaitu—tentang ditetapkannya kalender Islam—pada masa Sayyidina Umar ibnul Khatthab R.a. Dengan kata lain, tegas Kiai Badri, Sayyidina Umar ibnul Khatthab yang memprakarsai penyusunan kalender tersebut.

Mengapa begitu penting memahami sejarah kalender Islam ini? Sekali lagi, berdasarkan pada pemahaman sejarah KH.Badri Mashduqi, pentingnya sejarah perkalenderan Islam ini dipahami karena merupakan identitas umat Islam. Perasaan inilah, menurut KH.Badri Mashduqi, benar-benar mengganjal Sayyidina Umar ibnul Khatthab sehingga mendorongnya untuk diselenggarakan pertemuan para sahabat nabi dan tabi’in yang cukup brilian dan jauh pandangannya mengenai masa depan dunia Islam dan umatnya. Lebih detail, KH.Badri Mashduqi mengungkapkan tentang sidang perkalenderan Islam, berikut ini:

“Konon, dalam musyawarah itu ada macam-macam pikiran yang muncul. Ada usul agar kalender Islam bertolak dari peristiwa penyerbuan pasukan Gajah ke Mekah, ada yang mengusulkan berdasarkan kelahiran Nabi, ada lagi yang mengusulkan berdasarkan wahyu pertama, ada lagi yang mengusulkan berdasarkan kemenangan umat Islam di perang Badar. Lalu ada usul Sayyidina Ali yang pada saat itu termuda di antara anggota sidang musyawarah agar kalender Islam didasarkan dan bertolak dari Hijraturrasul. Usul inilah yang menarik sahabat Umar R.a. sehingga akhirnya ditampung secara aklamasi dan terkenallah ucapan beliau: _”Al hijrotu farroqot bainal haqqi wal bathili fa-arkhu biha_ (Hijrah merupakan pemisah antara yang Haq dan yang Batil, karena itu buatlah kalender berdasarkan hijrah ini).”

KH.Badri Mashduqi memberikan penjelasan lebih mendalam tentang sidang musyawarah perkalenderan Islam tersebut, menurut KH.Badri Mashduqi, karakter Islam lebih mengutamakan nilai-nilai yang luhur daripada sekedar main menang-menangan, “Dengan ini jelas karakter Islam dan perjuangannya lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur daripada sekedar main menang-menangan. Inilah yang dimanifestasikan oleh peristiwa Hijrah sebab Hijrah merupakan lambang perdamaian yang cukup menampakkan sikap tawadlu’ atau rendah hati kendatipun menolak setiap bentuk penindasan, kekejaman dan perkosaan kebebasan beragama.”

Selain pemahaman tersebut—dalam konteks musyawarah yang digagas oleh Sayyidina Umar mengenai sejarah kalender Islam—dipahaminya oleh KH.Badri Mashduqi, berarti Islam mampu memecahkan dan memberikan jawaban tentang hal-hal yang baru: “Apa yang dilakukan oleh sahabat Umar R.a. dengan sidang musyawarah jelas merupakan indikasi yang menunjukkan bahwa Islam dalam menghadapi bermacam-macam pertumbuhan atau pemunculan-pemunculan yang baru terjadi mampu memecahkannya sehingga setiap tantangan yang baru muncul selalu ada jawaban Islam yang cukup finalis dan aktual asal umat Islam mau memecahkannya secara musyawarah dengan latar belakang keinginan untuk menggali hal-hal baru yang relevan dengan karakter, kepribadian dan identitas Islam itu sendiri.”

Mengapa perhatian KH.Badri Mashduqi sangatlah besar terhadap pemahaman sejarah kalender Islam? Alasan yang sangat menantang bagi kita umat Islam agar Islam tidak sekedar menjiplak atau meniru-niru (baca, kehilangan identititasnya) mengenai dunia perkalenderan. Karena itulah harapan Kiai Badri, kita umat Islam tidak perlu menjiplak atau meniru-niru cara-cara kehidupan orang luar Islam. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan:

“Apa yang dilakukan sahabat Umar R.a. perlu jadi perhatian kita semua umat Islam bahwa kita tidak perlu menjiplak atau meniru-niru kehidupan orang luar Islam sepanjang menyangkut akidah, syariah, akhlak dan kepribadian Islam dan umatnya.”

Dalam konteks ini KH.Badri Mashduqi berdasarkan pada sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas di dalam Mustadrak-nya Imam Hakim. Melalui hadits ini nabi mensinyalir, yang artinya: “Demi akan hanyut kalian mengikuti jejak langkah kehidupan umat-umat sebelummu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika masing-masing mereka memasuki lubang biawak niscaya kamu sekalian ikut masuk, sehingga seandainya masing-masing mereka bersebadan dengan istrinya di tengah jalan niscaya kamu melakukannya pula.”

Melalui arti hadits tersebut ditafsiri oleh KH.Badri Mashduqi, berikut ini: “Nabi dengan hadits ini menghendaki agar kita sebagai umatnya benar-benar bertahan dengan harga mati di atas prinsip dan kepribadiannya. Umat Islam harus bangga dan merasa puas dengan agamanya yaitu Islam yang sudah cukup lengkap dan sempurna, tidak perlu tambahan-tambahan atau tambalan-tambalan dari isme-isme atau agama lain sepanjang menyangkut soal-soal yang prinsipil. Hal ini penting sebagai filter yang cukup merupakan kendala bagi adanya ekspansi dan penetrasi daripada kebudayaan singkretisme atau kombinasi agama yang cukup berbahaya itu.”

Selamat mengkaji dan semoga menambah pengetahuan kita selaku umat Islam, terutama seperti yang telah menjadi harapan KH.Badri Mashduqi, bahwa dengan kalender Islam sebagai bentuk kepribadian atau identitas Islam dan umatnya. Aamiin.

Selamat Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H.

Kraksaan, 31 Agustus 2019

 

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru