oleh

Peran Kiai Badri Mashduqi Agar Idul Khotmi di Jakarta Bebas Hambatan

PERAN KH.BADRI MASHDUQI AGAR IDUL KHOTMI DI JAKARTA BEBAS HAMBATAN

Di tengah derasnya era globalisasi, ibu kota Republik Indonesia yaitu Jakarta, banyak pula orang yang mau beristighfar, bersholawat dan berdzikir dengan istiqomah, dengan tujuan “ketentraman hati” seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, surat Al-Ra’du, ayat 28: Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub (Ingatlah bahwa dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tentram).

Alhamdulillah, ibu kota Republik Indonesia dapat menerima Tarekat Tijaniyah. Walaupun demikian, dalam sejarahnya, masuknya Tarekat Tijaniyah ke Indonesia dari sana sini cukup merepotkan. Terbukti juga, pelaksanaan Idul Khotmi At-Tijani ke 189 yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada tahun 1991 bukanlah bebas hambatan.

KH.Badri Mashduqi yang pada masanya cukup dikenal getol agar Tarekat Tijaniyah mudah diterima oleh semua kalangan, termasuk oleh para pejabat pemerintah, tidaklah tinggal diam. Beliau mengakui bahwa lawan-lawan yang memfitnah Tarekat Tijani bukan orang-orang sembarangan. “Siapakah yang menghambat perizinan Idul Khotmi di Jakarta?,” tegas KH.Badri Mashduqi dalam sebuah dokumen suratnya yang saat ini dihimpun oleh lembaga Syaikh Badri Institute atau SBI.

Memang acara Idul Khotmi di Stadion Gelora Bung Karno itu terbilang sukses. Acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI saat itu yaitu Bapak Soedharmono, Menteri Agama KH.Munawar Syadzali, Ketua Umum PBNU KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan H. Muammar ZA (qori’ terbaik tingkat internasional). Selain itu, acara ini dimeriahkan dengan santriwan-santriwati Pondok Pesantren Buntet Cirebon dengan “Qasidah Nahdlatul Ulama” dipadu dengan atraksi siswa-siswi MTs/MA Se-DKI Jakarta dalam bentuk kareografi kalimat tauhid, _”Lailaha illallah.”_ Tampil sebagai muballigh dalam acara ini: Ny. Hj. Dra. Tuty Alawiyah (Jakarta), KH.Zainuddin MZ (Jakarta) dan KH.Fuad Hasyim, MA (Buntet, Cirebon).

Namun demikian apakah suksesnya acara ini sebelumnya bebas hambatan? Ternyata diam-diam acara akbar ini terdapat gangguan atau hambatan perizinan dari orang-orang yang ingin acaranya gagal total. Beruntung KH.Badri Mashduqi yang cukup dikenal dekat dengan pejabat pemerintah saat itu mampu mengatasi sehingga acara Idul Khotmi di Jakarta lolos hambatan. “Saya berupaya untuk mengurangi kendala-kendala atau hambatan-hambatan terhadap Tarekat Tijani dengan mengambil hati kepada pemerintah. Dan alhamdulillah di antara hasilnya waktu ke Maroko pemerintah mengirimkan Athan (Staf Atase Pertahanan)-nya, yaitu Kol. Sukarno, untuk mendampingi rombongan kita ke sana. Dari itu sumbangan dan bantuan pemerintah tidak selamanya harus bersifat material. Kalau pemerintah berkata, “Perkembangan Tarekat Tijaniyah jangan dihalang-halangi,” itu pun merupakan sumbangan paling besar, sehingga aparat-aparat di bawahnya tidak berani menghalangi dan merintangi.”

KH.Badri Mashduqi sebagai pemimpin Tarekat Tijaniyah di Indonesia yang paling dekat dengan pemerintah saat itu semata-mata untuk kejayaan Islam dan umatnya, khususnya adanya kegiatan Tarekat Tijaniyah, seperti acara-acara Idul Khotmi Nasional berjalan lancar dan sukses.

Setelah Asas Tunggal Pancasila oleh pemerintah, dan memang KH.Badri Mashduqi sudah tidak lagi terikat oleh partai manapun. Artinya sikap khittah beliau memberikan dampak besar terhadap perkembangan Tarekat Tijaniyah. KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Alhamdulillah sikap khittah saya ini terbukti dapat menolong mengurangi kesulitan Tarekat Tijani seperti peristiwa di Lumajang dan Brani Wetan sehingga Bupati siap hadir. Begitu pula ketika sekelompok masyarakat di Bangkalan mengusulkan kepada MUI agar melarang Tarekat Tijani, saya berhasil memberikan pengertian kepada Kyai Misbach (Ketua MUI Jatim) melalui kaset sehingga pelarangan itu tidak terjadi.”

Jadi pendekatan KH.Badri Mashduqi kepada pemerintah saat itu sangat besar untuk perkembangan Tarekat Tijani. Semoga perkembangan tarekat Tijani semakin jaya. Aamiin.

Kraksaan Probolinggo,
13 Muharram 1441 H. / 13 September 2019 M.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru