oleh

Renungan di Bulan Agustus

Renungan di Bulan Agustus

Oleh: Sucipto 23*

 Dengan secangkir Kopi , Aku memulai menghisap tembakau ku di bulan Agustus. Ku melihat desa mulai rame dengan hiasan  merah putih sebagai lambang “kemerdekaan”  baik berupa bendera,spanduk bahkan ada yang rela membangun gapura merah putih atas nama “Cinta Indonesia”. Ya, masyarakat Indonesia bahkan dunia  tau bahwa  Indonesia merdeka 72 tahun yang lalu, tepatnya  17-Agustus-1945 yang  dipimpin oleh  Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Ku ucapkan terima kasih ke bapak bangsa ku yang memberi warisan “Merdeka” pada generasi sesudah mu.

Setiap tahunnya bangsa ini selalu merayakan kemerdekaan dengan berbagai lomba dan aktifitas lainnya. Bermacam-macam lomba diadakan mulai dari perlombaan anak-anak sampai perlombaan untuk orang tua. Semua itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia dalam meranyakan hari kemerdekaan  setiap tahunnya,  bahkan banyak para penjabat negeri ini rela mengeluarkan jutaan  rupiah bahkan ratusan juta demi membuat “hiburan” di bulan Agustus, tapi kemana  mereka saat ada anak yang tak mampu  membayar spp sekolah dan kemana mereka saat rakyatnya ditimpa bencana. Mungkin mereka tak mendengar karena terlalu sibuk oleh proyek-proyeknya. Astaghfirullah!!

Merayakan kemerdekaan bagi penulis bukan hanya sekedar mengadakan atau melaksankan aktifitas yang bersifat serimonial saja tapi jauh dari itu, bagaimana kita mampu membakar semangat  nasionalisme yang sudah mulai tenggelam  oleh egoisme sendiri yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Indonesia harus cepet membenah diri dari segala aspek agar menjadi bangsa yang merdeka  dalam arti  seutuhnya. Apakah seperti ini kemerdekaan yang diharapkan oleh pendahulu bangsa Indonesia???.

Bicara soal kemerdekaan tidak cukup  hanya  sebatas  bebas dari  penjajahan “bisa mengusir Penjajah” dalam arti sempit, tapi bagaimana bangsa indonesia bener-bener bisa melepaskan cengkraman pihak asing yang sebenarnya  sampai saat ini masih kuat cengkraman itu. Percaya tidak percaya itulah kenyataan di negeri tercinta kita. Tambang Mas, PLTU, dll hanya berapa persen yang masuk dalm kas Indonesia, negeri ini adalah negeri kaya-raya, lalu kemana  kekayaan tersebut kalau tidak  diangkut pihak lain yang bekerja sama dengan ”biokrat” bangsa ini yang tak tanggung jawab akan ke-indonesiannya. Mereka rela menjual aset Negara demi kepentingan perut mereka sendiri tanpa melihat sekelilingnya. Sifat apatis telah mendarah daging hingga tak mau lagi bersosial dengan tetanggga bahkan saudaranya.

Kemerdekaan  bukan  hanya  untuk para elit  bangsa. Kemerdekaan milik semua masyarakat  bangsa  Indonesia sehingga tercipta  Negara yang sejahtera , tapi sayangnya semua itu hanya selesai di wacana dan “orang bawah” hanya  bisa bermimpi untuk hidup sejahtera. Pendidikan yang mapan hanya untuk mereka yang orang tuanya berdasi,bukankah sudah tertera dalam UUD 1945 bahwa  Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan  bangsanya, bukan  mencerdaskan anak orang kaya!  kesehatan berkualitas  untuk para elit, kesejahteraan dirampas oleh para biokrat bahkan hukum di Indonesia pun mereka yang pegang kendali sehingga tak  ada keadilan  bagi rakyat yang lemah.

Apa gunanya memiliki Pancasila sebagai salah satu dasar hukum negeri ini. Dalam “Pancasila ku” dijelaskan bahwa keadilan bagi seluruh rakya Indonesia, baik orang kaya maupun orang miskin memiliki hak yang sama. Lalu  kenapa di negeri ini tak ada keadilan yang merata. Para “elit” lebih suka memilih teori “Piramit terbalik” yang tajam ke bawah dari pada teori “mata rantai” yang selalu melengkapi satu sama lainnya. Apa mungkin “Pancasila” yang  dianut oleh mereka tak sama dengan pancasilanya orang-orang di bawah jembatan? Mungkin Pancasila sudah tidak relevan dengan bangsa ini atau mungkin Pancasila tidak relevan dengan kemauan para biokrasi yang tak bertanggung jawab???

Jika melihat kembali masa penjajahan  di negeri ini, maka tidak jauh berbeda saat Indonesia telah merdeka. Dimana pada masa penjajahan kekayaan negeri ini dirampas oleh pihak asing dengan cara memaksa atau menyiksanya, saat ini pun kita juga melihat bersama bahkan lebih parah karena kekayaan negeri ini diambil oleh saudara sebangsa kita sendiri dengan jalan menggelapkan kekayaan negeri sendiri, lebih parah lagi kekayaan negeri ini dijual ke pihak asing, lagi-lagi oleh saudara kita sendiri  demi memenuhi kebutuhan perut dan nafsunya. Kita sangat sulit membedakan mana orang Indonesia asli dan mana orang Indonesia yang beprilaku penjajah karena mereka semua sama-sama pakai “topeng sama”. Jadi jangan heran, jika masyarakat Indonesia tak percaya dengan para perwakilannya yang duduk di kursi nyaman kerena telah diajari sifat apatis oleh perwakilannya.

Para bapak Bangsa ku,maafkan kami yang belum bisa meneruskan cita-cita mulia mu. Betul kata mu “perjuangan kalian lebih sulit dari perjuangan ku, karena kalian melawan saudaranya sendiri”. Semoga Indonesia mu tak bosan kami berikan, gadaikan, dan kami jual ke pihak asing dan semoga Indonesia mu tetap menjadi negeri kaya raya agar kami semakin rakus. Salam dari kami bapak bangsa ku!!!

#Besuki, 10-Agustus-2017

 

Oleh : Sucipto (Alumni Badridduja dan Alumni Univ Sunan Kalijaga Yogyakarta)

 

*Kuli di Indonesia

Komentar

Informasi Terbaru