oleh

Sa’i Zaman Now.

(Antara Tinjauan Hukum Fiqih & Esensi Ibadah)
@Renungan Pagi Tauhidullah Badri. 🌅

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ [Surat Al-Baqara : 158]

“Sesungghnya Sofa dan Marwa adalah sebagian daripada syiar agama Allah…. ”

ان الله كتب عليكم السعي

“Sesungguhnya Allah mewajibkan kepadamu Sa’i” (Hadist)

Secara Fiqih, pelaksanaan Sa’i dianggap sah sepanjang memenuhi syarat2nya, misalnya:
1. Dimulai dr Shofa dan berakhir di Marwa.
-Dilakukan Sebanyak 7 X.
2. Dikerjakan setelah Thowaf rukun atau qudum dst…
3. Dilakukan ditempat yg sdh ditetapkan…
4. Dilakukan betul2 untuk Sa’i, bukan untuk tujuan lain, misalnya nyari barang atau nyari orang yg hilang dsb.

Dlm Sa’i tidak ada bacaan yg wajib. Adapun berdoa atau berdzikir sifatnya sunnah. Karena itu secara hukum fiqih menyenandungkan syair atau nasyid (yg sifatnya mubah) diperkenankan.
Sebagaimana disebutkan dlm ktb Umdah:

عمدة القاري للعيني ٩/٢٦٤

فروع ذكرها الشافعية: وهي: يجوز له إنشاد الشعر والرجز في الطواف إذا كان مباحا، قاله الماوردي، وتبعه صاحب (البحر)

Bahkan dlm ktb Alhawi diceritakan bgmn ketika Rosulullah bersa’i.
فصل
: فأما إنشاد الشعر والرجز في الطواف، فجائز إذا كان مباحا؛ وقد روى عبد الله بن أبي زياد عن مجاهد أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يطوف بالبيت وهو متكئ على أبي أحمد بن جحش وأبو أحمد يقول:
(يا حبذا مكة من وادي)

(أرضي بها أهلي وغوادي)

(أرض بها أمشي بلا هادي)
اهـ الحاوى الكبير

Dlm Ibadah yg perlu diperhatikan bukan hanya Hukum Fiqihnya semata. Tapi juga Hikmah, Esensi ibadah, Adab dlm beribadah dsb. Yg perlu dipertimbangkan bukan hny sebatas sah, tapi juga bgmn ibadah yg kita lakukan bisa membentuk karakter dan berdampak positif trhdp jiwa, membawa kita semakin dekat dan taat kpd Allah. Dan itu mrpk esensi ibadah.
Dlm Sa’i ada Tarbiyah Ilahiyah, dlm mengerjakannya perlu kesungguhan, penghayatan, perenungan, mengambil ibrah (sebagai bentuk napak tilas dari apa yg dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim).
Sa’i mrpkn sebagian bentuk ritual yg bertujuan untuk memperteguh ketaatan yg total kpd Allah. Momentum untuk menghadirkan (berdzikir) serta mengagungkan kebesaran Allah swt.
Seperti yg disabdakan Nabi.
انما جعل الطواف بالبيت وبين الصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله
[الحديث]

Shg dlm bbrp riwayat juga diceritakan, kesungguh2an Rosulullah ketika melakukan Sa’i. Shg beliau bersabda

لا يقطع الابطح الا شذا. رواه النسائي

“Tidaklah bisa dilampaui pasir-pasir (yg ada antara safa marwa) kecuali dgn sungguh2.”

Seharusnya ibadah dipahami bukan sebatas ritual yg bersifat formalitas semata, melakukannya tanpa penghayatan dan tanpa mengedepankan adab.

Sehingga pada akhirnya ibadah menjadi ritual tanpa ma’na, sekedar menggugurkan kewajiban dan tdk mampu mnjdkn pelakunya memetik hikmah yg terkandung didalamnya, dan tdk bisa mencapai esensi ibadah, tdk ngefek atau tdk membawa dampak positif terhadap jiwanya.
Sehingga bnyk pelaku2 ibadah, sering Haji, Umrah, Shalat, dsb. Tapi Korupsi, dholim atau menipu orang lain tetap jalan. Kalau dlm bahsa orang kebanyakan, ibadah hanya mnjdkn dirinya sholeh secara pribadi tapi tdk mnjdkn sholeh secara sosial. Atau dlm bahasa lain, ibadahnya tdk ngefek. Na’udzubillah…Smg kita terhindar dr hal sprt itu. Aamiin.

Smg bermanfaat.

Komentar

Informasi Terbaru