oleh

Saya Tak Menghendaki Darah Tumpah, Apalagi Peluru yang Bicara

KH.Badri Mashduqi: Saya Tak Menghendaki Darah Tumpah, Apalagi Peluru yang Bicara

Sejarah panjang Indonesia, diraihnya dengan perjuangan berdarah-darah, sampai Indonesia merdeka. Dan setelah merdeka, masih saja perjalananan di negeri ini tidaklah berjalan mulus. Karena itulah sebagai ulama, yang lahir sebelum Indonesia merdeka, KH.Badri Mashduqi lahir pada 1 Juni 1942 di Prenduan Sumenep Madura, dan pada masa Gestapu PKI, beliau menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kraksaan, berjuang menumpas komunisme. Pada tahun 1967 beliau mendirikan pesantren di Kraksaan Probolinggo (Pesantren Badridduja), tentunya beliau amat paham akan sejarah panjang bagaimana Indonesia terbebas dari rongrongan pihak-pihak yang ingin merobek-robek keutuhan NKRI.

“Pada peristiwa 1965, alhamdulillah kami terlibat aktif dalam penumpasan Gestapu PKI di wilayah kami. Maka kalau ada yang menyayangkan terjadinya aksi-aksi pengganyangan terhadap semua unsur PKI, maka itu berarti berhadapan bukan hanya dengan ABRI, melainkan juga umat Islam.”

Begitulah pernyataan KH.Badri Mashduqi di hadapan hadirin, sambutan selaku pengasuh PP Badridduja pada acara Harlah ke-30 PP Badridduja Kraksaan Probolinggo pada tanggal 10 Agustus 1996, yang kala itu juga dihadiri oleh para pejabat pemerintah.

Pada tahun 1993, ketika peta politik dan ekonomi sedang ramai, pergeseran jabatan dan suksesi sulit diduga. Bahkan konglomerat mulai dipersoalkan. “Ada apa Pak Kiai?,” tanya wartawan Surabaya Minggu (baca, Surabaya Minggu, Minggu IV Juli 1993) di Pesantren Badridduja. “Ya, saya memang baca itu di surat kabar. Karenanya, tanggal 7 Agustus nanti (1993) kami akan menggelar Doa Massal. Diperkirakan ada 50 ribu jamaah dari Jawa dan Madura yang akan berpartisipasi,” tegas Kiai yang pernah menolak menjadi anggota MPR/DPR RI.

KH.Badri Mashduqi, meski tidak pernah berada dalam struktural pemerintahan tapi peran penting beliau sangatlah besar untuk menjaga keutuhan NKRI. Kedekatan beliau dengan Pak Harto sebagai bentuk tanggung jawab, bagaimana hubungan antarulama dan umara tetap terjaga dengan baik sehingga manakala terjadi persoalan menyangkut bangsa lebih mudah dikomunikasikannya. Menjawab pertanyaan wartawan Surabaya Minggu tentang persoalan politik, ekonomi, atau kebangsaan kala itu, dengan tegas KH.Badri Mashduqi menyatakan: _”Saya tak menghendaki darah tumpah, apalagi kalau peluru yang bicara.”_

Dari itulah tentu kita berharap—sebagaimana harapan Kiai Badri Mashduqi—tak ingin darah tumpah, apalagi peluru yang bicara. Semoga kehidupan di negara kita tetap aman dan damai, menjadi negara yang dilindungi Allah, persatuan dan kesatuan sesama bangsa tetap terjaga. Aamiin.

#Referensi: Dokumentasi dan Perpustakaan Syaikh Badri Institute

Kraksaan Probolinggo, 28 Muharram 1441 H. / 28 September 2019 M.

 

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru