Sejarah

oleh

Jalinan silaturahim yang baik antara penduduk desa dan pesantren menumbuhkan sinergi positif di Dusun Karang Juwet Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Pesantren Badridduja yang berdiri sejak 46 tahun lalu mendapatkan sumbangan dari warga desa untuk terus berdiri.

Pesantren Badridduja di Dusun Karang Juwet Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo berdiri 28 Januari 1967 silam. Pendirinya adalah Almarhum KH. Badri Mashduqi asal Desa Perenduan Kecamatan Pragean Kabupaten Sumenep. Seperti diceritakan Ahmad Hilmi, Kepala Pesantren Badridduja kepada NU Online.

Kini, pesantren yang awalnya berdiri di atas hutan alias Karang Juwet ini terus berkembang dan memiliki 350 santri. Selain berasal dari warga sekitar pesantren, santri yang menimba ilmu di pesantren itu, ada juga yang dari luar kecamatan. Seperti dari Kecamatan Tiris, Krucil dan sejumlah desa yang tersebar di Kabupaten Probolinggo.

Padahal, setahun setelah didirikan jumlah santri yang menetap dan belajar sebanyak 30 orang. Mereka menempati ruangan atau kamar yang terbuat dari kayu dan bambu. Meski kondisinya demikian, tidak mengurangi minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Pesantren Badridduja. Terbukti, di tahun kedua jumlah santrinya bertambah 50 persen.

Menurut kepala Pesantren Badridduja Ahmad Hilmi Imamah  pesantrennya didirikan bergotong-royong dengan masyarakat sekitar. Bahkan tanah seluas satu hektar yang ditempati pesantren merupakan pemberian atau hibah salah seorang dermawan kelurahan setempat.

“Dukungan warga sekitar terhadap berdirinya pesantren ini cukup besar. Areal yang awalnya hutan, sekarang menjadi pesantren seperti ini. Mereka berjuang mendirikan pesantren tanpa pamrih,” jelasnya.

Awalnya, di tanah seluas satu hektar itu hanya berdiri bangunan masjid dan rumah sederhana yang ditempati KH. Badri Mashduqi. Dalam perjalanannya, kini pesantren yang dikepalainya sudah memiliki kantor dan ruangan yang representatif dan memenuhi syarat sebagai tempat belajar. Nama Badridduja dipilih menjadi nama pesantren, selaras dengan cita-cita sang pendiri. “Badridduja artinya habis gelap terbitlah terang,” terangnya.

Ditambahkan, awalnya pelajaran yang diberikan pendiri pesantren ini berkutat seputar masalah hukum Islam, tasawuf dan penanaman ilmu tauhid. Namun sesuai perkembangan, disiplin ilmu yang diajarkan semakin luas. Pesantren Badridduja juga mengajarkan ilmu-ilmu sosial dan eksakta kepada para santrinya.

Perlu diketahui, pendiri Pesantren Badridduja KH. Badri Mashduqi merupakan keturunan tokoh ulama Madura bernama KH. Mashduqi. Meski tidak memiliki pesantren, kemasyuran nama orang tuanya terkenal di penjuru Madura. Kiai Badri sejak usia 14 tahun, sudah nyantri di sejumlah pesantren terkenal di Jawa. Seperti, Pesantren Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Pesantren Sidogiri Kabupaten Pasuruan dan Pesantren Nurul Jadid, Pairon Kabupaten Probolinggo.

Kiai Badri kemudian dikenal sosok ulama yang ahli dibidang ilmu fiqh dan tasawuf. Sehingga tidak heran jika awalnya berdirinya pesantren, pelajaran fiqh dan tasawuf mendapatkan porsi lebih.

Ahmad Hilmi Imamah mengatakan, Kiai Badri yang wafat tahun 2002 silam itu selalu menekankan santrinya untuk memajukan pendidikan dan membesarkan ormas Nahdlatul Ulama (NU). Sebab tanpa pendidikan kerusakan moral ditengah masyarakat akan sulit teratasi.

“Santri harus bisa menjadi garda terdepan bagi kemajuan pendidikan. Dan juga Ormas NU. Sebab pesantren tidak bisa dipisahkan dari NU,” ungkap Hilmi menirukan pesan gurunya tersebut