oleh

Sekolah Rumah Model Nyai Fatmah Mawardi Prenduan (Ibunda Kiai Badri Mashduqi)

SEKOLAH RUMAH MODEL NYAI FATMAH MAWARDI PRENDUAN

Sekolah rumah atau homeschooling adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan/informal. Sekolah rumah dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orang tua dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.

Sekolah rumah bukanlah lembaga pendidikan, bukan juga bimbingan belajar yang dilaksanakan di sebuah lembaga, melainkan model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai penanggung jawab utama.

Saat ini, homeschooling sangat populer di Amerika Serikat, dengan persentase anak-anak 5-17 tahun yang diberikan homeschooling meningkat dari 1.7% pada 1999 menjadi 2.9% pada 2007.[Wikipedia]

Begitu pentingnya pendidikan dalam rumah tangga karena apabila mengacu pada pandangan putra Almarhumah Nyai Fatmah Mawardi, KH.Badri Mashduqi (Pendiri dan Pengasuh Pertama Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo Jawa Timur Periode 1967-2002), tentang rumah tangga amat berpengaruh besar terhadap pembangunan bangsa dan negara. Dalam konteks ini, KH.Badri Mashduqi menegaskan: “Membangun negara dan bangsanya harus dimulai dari unsur dasarnya yaitu keluarga atau rumah tangga. Rumah tanggalah pembangunan negara dan bangsa harus dimulai penggarapannya.” KH.Badri Mashduqi memberikan perbandingan tentang rumah tangga dengan alfabet, berikut ini, “Ibarat orang belajar membaca harus dimulai dari alfabet-nya. Maka alfabet pembangunan adalah rumah tangga. Kalau sudah salah alfabetnya akan salah terus kelanjutannya.”

KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Kiranya tidak terlalu berlebihan kalau kedudukan rumah tangga oleh kami dikatakan sebagai kedudukan kunci yang paling menentukan di dalam setiap pembangunan, apalagi pembangunan Indonesia di mana sasaran pokoknya adalah manusia seutuhnya, yang menyangkut segala macam aspek kebutuhan lahiriah dan batiniah.”

Ada pepatah yang menyebutkan, “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.” Jadi, jika kita ingin anak-anak kita baik, maka kita pertama kali selaku orang tua yang harus baik. Jika kita ingin anak-anak kita menjadi manusia berakhlak baik, kita lebih dulu yang harus memiliki akhlak yang baik. Warisan yang paling berharga dari para orang tua, bukanlah harta yang tak akan pernah habis atau jabatan yang tinggi. Tapi pendidikanlah yang merupakan warisan paling berharga yang tetap berguna sepanjang masa dan dapat mengantarkannya menjadi keturunan yang cemerlang nan mulia.

Selain sebagai seorang suami dalam rumah tangga itu amat berperan, peran seorang ibu rumah tangga tidak kalah penting. KH.Badri Mashduqi menegaskan: “Meningkatkan pendidikan kaum ibu, karena mendidik mereka seorang saja berarti mendidik rumah tangga keseluruhannya.” KH.Badri Mashduqi mengutip kata-kata seorang penyair, yang diartikan berikut ini: “Ibu adalah suatu sekolah, jika kamu persiapkan dengan baik-baik seorang ibu, maka berarti kamu mempersiapkan baik-baik suatu bangsa yang berdarah baik (bangsawan).”

Martin van Bruinessen, peneliti kitab kuning, pesantren dan tarekat dari Belanda, menyatakan, “Ibunda Kiai Badri, Nyai Fatmah Mawardi, juga seorang yang mempunyai pengetahuan agama, dia mengajar di Prenduan, dan bahkan menjadi muqaddamah Tarekat Tijaniyah.” Dari sosok seorang ibu yang bernama Nyai Fatmah seperti inilah amat berpengaruh besar terhadap pembelajaran di rumah pada keturunannya.

Bagaimana dengan Sekolah Rumah Model Nyai Fatmah Mawardi? Walaupun pada masa Nyai Fatmah belum dikenal sekolah rumah atau Homeschooling, akan tetapi, Nyai Fatmah sebagai seorang ibu memberikan arti dan pengaruh besar, bagaimana beliau mencetak seorang putra dan para cucunya yang kelak diharapkan terhadap para keturunannya sehingga dapat mencerahkan kehidupan umat, agama dan bangsa. Putra yang bernama Badri Mashduqi, dibimbing dan diajari al-Qur’an sendiri oleh ibundanya, Nyai Fatmah Mawardi, menunjukkan bahwa kedekatan seorang ibu juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan karakter terhadap seorang putranya dan para cucunya.

Penulis dalam hal ini ingin menjabarkan tipologi Nyai Fatmah Mawardi, terutama peranan dalam kehidupan rumah tangga serta pendidikan terhadap anak. Dengan demikian dapat diharapkan, tipologi dan kepribadian serta pola pembelajaran Nyai Fatmah menjadi model pembelajaran dan pendidikan sekolah rumah:

1. Menjadikan rumah sebagai tempat kegiatan literasi
Di antara cucu Nyai Fatmah mengakui, seperti KH.Tauhidullah Badri (pengasuh kedua Pesantren Badridduja Kraksaan periode 2002-sampai sekarang) dan Nyai Zulfa Badri (Pengasuh Pesantren Al-Mashduqiah Patokan Kraksaan) menyatakan, “Hampir semua cucu beliau bisa baca al-Qur’an dan baca tulis huruf latin karena ketelatenan Nyai Fatmah.” Dan Nyai Fatmah sendiri amat produktif dalam menulis dan melantunkan syair-syair (bahasa Madura).

2. Menjadikan rumah sebagai tempat mengaji dan mengkhatamkan Al-Qur’an
Tujuan ini diharapkan menjadi orang yang selamat Dunia-Akhirat dan mendapat keturunan yang mulia. Memang, Nyai Fatmah adalah ibu yang istiqomah dalam mengkhatamkan al-Qur’an dalam seminggu khatam. Istilah khataman al-Qur’an ala Nyai Fatmah disebut “Rotibul Qur’an.” Sebagaimana Nyai Fatmah menyatakan, berikut ini:

“Lamon a-Rotib ekasalamet Dunnya-Aherat, ekamolje anak potoh (Jika melaksanakan Rotib [Rotibul Qur’an/khatam al-Qur’an] untuk keselamatan Dunia-Akhirat, untuk kemuliaan anak keturunan).”

Terhadap kegiatan rutinnya, Rotibul Qur’an, sampai-sampai—Nyai Fatmah memang amat produktif dalam mengarang syair—dalam bait-bait syair Nyai Fatmah, jadwal kegiatan Rotibul Qur’an beliau (dalam seminggu khatam), berikut ini:

Sorat Fateha are Jumaat-na
Sampe’ dha’ An-‘Aam neka samporna
Suratul An-‘Aam e are Satto
Sampe’ dha’ Yunus neka patanto
(Surat Fatihah hari Jum’at-nya
Sampai pada An’am ini sempurna
Suratul An’am di hari Sabtu
Sampai pada Yunus inilah tentu)

E are Ahad Yunus soratna
Dha’ sorat Thaha pangabisanna
Pas sorat Thaha sampe’ Senin-na
Sampe’ ‘Ankabut neka totokka
(Di hari Ahad Yunus suratnya
Pada surat Thaha penghabisannya
Lantas surat Thaha sampai Senin-nya
Sampai ‘Ankabut ini selesainya)

Surat Ankabut e Selasa-na
Surat Zumarah are Rabu-na
Kamis Waqi’ah pasampe’ tammat
Pas nganthang pola e are Jumat
(Surat ‘Ankabut di Selasa-nya
Surat Zumarah hari Rabu-nya
Kamis Waqi’ah sampai tamat
Lantas mulai lagi di hari Jumat)

Sarta papadhe paraturanna
Dha’ cara-cara se pertamana
Raje ongguen kaberkatanna
Dha’ anak potoh sanget moljana
(Serta samakan peraturannya [tata cara membacanya]
Pada cara-cara [urutan bacaan sesuai jadwal Rotibul Qur’an] yang pertamanya
Besar sungguh keberkatannya
Pada anak keturunan sangat mulianya)

3. Menjadikan rumah bernilai dan bernuansa dakwah
Biasa, setiap tamu datang menamu ke kediaman Nyai Fatmah, bisa dipastikan tamu tersebut—selain mendapat suguhan berupa makanan dan minuman—mereka pula mendapat sajian berupa lembar-lembar syair atau syiiran karya Nyai Fatmah untuk dibacakan secara bersama-sama. Sehingga suasana rumah penuh dengan tembang-tembang syiiran-syiiran. Umumnya syiiran-syiiran Nyai Fatmah bernuansa religi (keagamaan). Dengan demikian para tamu pun mendapat keberkahan ilmu.

4. Menjadikan anggota rumah tangga untuk saling mengingatkan seraya ingat kepada Yang Kuasa (Dzikrullah)
Suatu ketika, Nyai Fatmah berada di dapurnya untuk mendampingi seorang pembantunya yang bernama Tolhatun. Dalam kesempatan itu, Nyai Fatmah sempat menegur perkataan Tolhatun. Tentu dengan kepekaan Nyai Fatmah menilai terhadap perkataan itu mengandung kesalahan ataupun tidak pantas diucapkan, karena itu, tegas Nyai Fatmah: “Engkok, be’en, dusa. Istighfar! Je’ ngarjai caca. Nyo’on ka Guste Allah. Apa se ekacaca oreng abali ka aba’en dibi’ (Saya, kamu, dosa. Istighfarlah! Jangan membesar-besarkan omongan. Mohon kepada Gusti Allah. Apa yang dilontarkan (perkataan) dari seseorang maka akan kembali pada dirinya sendiri).” tegur Nyai Fatmah dengan tegas dan sangat hati-hati.

Dari itulah, tentunya kita sangat berharap seperti model pembelajaran Nyai Fatmah Mawardi dapat pula kita jadikan model di dalam sekolah rumah atau homeschooling sehingga masa depan rumah tangga kita sampai pada anak keturunan menjadi gemilang, sukses dan barokah. Aamiin.

#Referensi: buku Biografi Nyai Fatmah Mawardi, makalah KH.Badri Mashduqi tentang rumah tangga dan sumber lainnya.

Kraksaan, 3 Muharram 1441 H. / 3 September 2019 M.

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru