oleh

Syaikh Badri terhadap pemikiran millenial

Kiai Badri Kraksaan dan Cak Nur

Di Probolinggo, ada banyak kiai terkenal, antara lain kiai yang sangat Gus Durian, yaitu Kiai Wahid Zaini dari Paiton. Ada Kiai Mutawakkil ‘Alallah, lalu puteranya, Kiai Hasan Mutawakkil, dari Genggong.

Tetapi juga ada kiai lain yang ndak kalah terkenal, yaitu Kiai Badri dari Kraksan. Saat menulis catatan ini, saya sedang melewati Kraksan, dalam perjalanan menuju ke pesantren Asembagus, Situbondo, bersama Gus Mus. Di dalam mobil, Gus Mus berkisah tentang adegan “lucu” yang melibatkan Kiai Badri dan Cak Nur. Berikut ini kisah yang dituturkan Gus Mus.

Suatu ketika, ada seminar di sebuah pesantren di Probolinggo di mana Cak Nur (ketika itu masih muda, dan masih doktorandus) “rawuh” (datang) sebagai pembicara. Kita tahu, Cak Nur juga lulusan pesantren, tetapi bukan pesantren tradisional ala NU, melainkan pesantren modern di Gontor, meskipun ayahanda Cak Nur “nyantri” di pondok tradisional pada Hadlratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur.

Di Gontor itu, para santri diajar berbahasa Arab dan Inggris, dan berbicara dalam dua bahasa itu. Karena itu, Cak Nur berbicara dengan fasih dalam dua bahasa itu.

Ini berbeda dengan pondok-pondok NU, di mana santri di sana belajar bahasa Arab klasik sekedar untuk membaca saja, bukan untuk bercakap-cakap. Karena itu, para santri lulusan pesantren NU biasanya sangat mahir membaca kitab-kitab klasik yang ditulis dalam bahasa Arab klasik, tetapi tidak mahir bercakap-cakap dan “ngomong” dalam bahasa Arab.

Sebaliknya, lulusan pesantren modern Gontor biasanya fasih bercakap dalam bahasa Arab, tetapi kurang terampil membaca kitab-kitab klasik.

Kembali ke seminar yang dihadiri Cak Nur tadi: Dalam seminar itu, Cak Nur “muda” melontarkan kritik (bukan untuk tujuan “ngènyék”, tentunya, tetapi kritik untuk memotivasi) terhadap kiai-kiai pesantren.

Kiai-kiai pesantren itu, kata Cak Nur, sangat fasih membaca kitab-kitab klasik, dan mengutip kaidah-kaidah fiqih dalam bahasa Arab. Sayangnya, lanjut Cak Nur, para kiai itu tak bisa berbicara dalam bahasa Arab.

Demi mendengar kritikan itu, Kiai Badri langsung berdiri dan interupsi, sebelum interupsi menjadi “mode” seperti sekarang ini di gedung DPR.

Kata Kiai Badri:

Maaf, Saudara Doktorandus Nurcholish Madjid (ngomong “doktorandus”-nya sengaja difaseh-fasehkan oleh Kiai Badri 😀). Saudara tidak tahu ya, para kiai itu belajar bahasa Arab bukan untuk apa-apa, tetapi agar bisa BERKOMUNIASI dengan Imam Syafii, Imam Ghazali, dan ulama-ulama besar zaman dahulu. Mereka ingin memahami ide-ide para ulama besar itu.

Kiai Badri “ambegan” (bernafas) sebentar. Lalu, lanjutnya:

Kiai-kiai itu, kalau sekedar bicara bahasa Arab untuk beli sajadah di Pasar Seng di Mekah, ya bisalah. Tetapi kalau disuruh berbahasa Arab setiap hari, ya untuk apa, wong tetangganya orang Jawa semua.

Mendengar “interupsi” ini, Cak Nur tertawa terpingkal-pingkal, dan langsung menaruh tangannya di atas kepala, memberi isyarat “tepok jidat”, seraya berkata: “Iya juga ya, Kiai. Kenapa kok nggak terpikir oleh saya.”

Setelah itu, Kiai Badri langsung copot peci dan ditaruhnya peci itu di atas meja, seraya berkata:

Sudah, segitu aja. Saya izin mau ke toilet.

Sontak, para peserta seminar tertawa semua demi melihat “kelakuan” Kiai Badri itu.

 

By: Ulil Abshar Abdallah

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru