oleh

Tanggung Jawab di Pundak Santri (Pertemuan HASB Situbondo)

-HASB-95 views

TANGGUNG JAWAB DI PUNDAK SANTRI

KH.Tauhidullah Badri, _Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo, dalam acara Himpunan Alumni Santri Badridduja (HASB) Situbondo_

Pada hari Sabtu, 9 Maret (2019), di Pondok Pesantren “Sabda Ria Nada,” Sumbermalang Situbondo, di bawah asuhan KH.Hasbiallah ditempati acara “Majelis Sholawat Fatih Syaikhuna Badri Mashduqi,”_yang merupakan program rutin tiga bulan sekali Himpunan Alumni Santri Badridduja (HASB) Situbondo. Selain KH.Tauhidullah Badri (Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja), acara ini dihadiri oleh Nyai Hj.Zumroh Najiyah (Pengasuh Putri dan Kepala MTs Badridduja), Ust.Iqro’ At-Tijani (Kepala Pondok Pesantren Badridduja), Ust.Anshori (Kepala MA Badridduja dan pengurus HASB Pusat), H.Syamsuri Damanhuri (Ketua Umum HASB Pusat), Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute atau SBI, selaku Ketua Panitia Penerimaan Santri Baru Tahun Pelajaran 2019/2020, dan Sekretaris Umum HASB Pusat), Ust.Hasar (Perwakilan Pengurus HASB Probolinggo), dan sebagian alumni dari Probolinggo juga hadir, seperti Bpk.Amir Mahmud (Krejengan), Bpk Fauzi dan Ust.Zainul Hasan (Alastengah Besuk).

Dalam isi ceramahnya melalui acara HASB Situbondo, Kiai Tauhidullah Badri, menyampaikan di hadapan para alumni yang hadir serta Group Musik Sabda Ria Nada, berikut penulis sampaikan kembali isi ceramahnya:

“Seorang santri setelah mondok bukan lepas tanggung jawab, justeru ada tugas dari ilmu yang telah diperolehnya, keberkahan ilmu, kemuliaan ilmu yang kita peroleh dengan kita menyambung kepada guru.”

“Hubungan kita kepada guru tidak hanya selama kita hidup atau saat kita belajar”

“Komitmen dalam bidang tertentu, dan sekecil apa pun kemampuan itu diharapkan dapat memberikan manfaat dan berguna kepada masyarakat”

“Sebagai alumni, kita terkadang menganggap sudah selesai, padahal setelah kita mendapatkan ilmu terdapat tanggung jawab, Mundzirul Qaum, menyebarkan risalah Nabi Muhammad SAW. di tengah-tengah masyarakat.”

Harapan saya, “Tanggung jawab besar di pundak santri harus betul-betul diperjuangkan, bukan hanya dunia jadi obsesi dan motivasi. Jika demikian kehidupan kita, malah kita yang dipersibuk dalam urusan dunianya bahkan direndahkan oleh Allah SWT., dan tidak merasa cukup terhadap urusan dunianya, yakni kita esolak (baca, bahasa Madura), kemudian dalam urusan dunianya terasa sulit menemukan solusi, justeru kemudian ditambah masalahnya oleh Allah, silih berganti persoalannya dan tak kunjung selesai, “Engko’ ta’ entar ka pondhuq karna kabutoan ekonomi (Saya tidak bisa datang ke pondok karena kebutuhan ekonomi).” Justeru dengan pernyataan demikian inilah maka alumni tersebut yang mempersulit diri. Karena itulah, “Pentingnya kita membangun obsesi, motivasi, niat yang benar kepada Allah.”

“Odhi’ neka sakejjhe’ (Hidup adalah sementara), bagaimana kita dapat memberikan manfaat kepada orang lain.” Semoga kita, santri, yang telah berperan dan aktif di tengah-tengah masyarakat diberi keistiqomahan. Aamiin.

“Sekecil apa pun kemampuan kita tapi memberi manfaat untuk orang lain adalah sarana mendapatkan keridlaan Allah.”

Termasuk misalnya mengajar mengaji, contoh KH.Hasyim Asy’ari, kiai besar, tapi beliau sangatlah mengagumi orang yang mengajar mengaji, Kairukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu.

“Siapa pun diri kita, sekecil apa pun ilmu yang kita punyai, kita amalkan dan kita sebarkan untuk memberi manfaat buat orang lain”

Di tahun politik ini (2019), mungkin ada alumni yang mencalonkan diri untuk menjadi Caleg sebagai DPR, “Obsesi Ruhaniyah, niatkan menacari ridho Allah. Bukan hanya untuk materi. Yakinlah, kalau kepentingan untuk Allah, maka Allah membalasnya.”

Situbondo, 9 Maret 2019

Editor, Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute dan Sekretaris Umum HASB Pusat)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru