oleh

Ternyata Betul, Bukan Bayi dalam Kandungan

Berawal diundangnya KH.Badri Mashduqi oleh K.Mahdlur K.Mahdlur adalah santri KH.Badri Mashduqi, mondok di Pesantren Badridduja pada 1971 – 1980 (Ketua Yayasan Maulana Ishak Bulang dan Ketua Umum MUI tingkat Kecamatan Gending Periode 2012/2017), dalam acara Selamatan 7 Bulan Kandungan seorang ibu tetangga di Bulang, Gending, Probolinggo. Kiai Badri hadir pas Maghrib. Mobil beliau sampai di Masjid di sana (dekat acara) terlebih dulu, sementara K.Mahdlur masih sholat maghrib di rumahnya. Kemudian seorang santri Kiai Badri menyusul K.Mahdlur di rumahnya.  “Ma’ ce’ solangnga (Kok datang lebih awal),” kata K.Mahdlur kepada istrinya. Sebab K.Mahdlur, sebagai pihak pengundang, yang semestinya datang lebih awal ke tempat acara, justeru Kiai Badri-lah yang mengawalinya.

Usai sholat maghrib, K.Mahdlur langsung cepat-cepat berangkat ke tempat acara. Sebagian undangan sudah berada di kursi undangan. Pas Kiai Badri tiba di tempat acara, belum turun dari mobilnya, menyatakan:

“Gu’ emma Mahdlur, ma’ gi’ sobung? (Dimanakah Mahdlur, kok tidak ada [belum datang di tempat acara]?),” tanya KH.Badri Mashduqi kepada sebagian undangan yang lebih dulu datang.

“Moleyya kule. Jhang-ngonjhang oreng ta’ genna (Pulanglah saya. Mengundang seseorang tidak cakap),” dauh Kiai Badri. Akhirnya Kiai terus pulang. Jadi, beliau belum turun dari mobilnya langsung balik ke Kraksaan.

Dari situlah sebagian undangan melontarkan pernyataannya kepada K.Mahdlur: “Jhe’ longguwwe gallu Keae anapa ghi (Andaikan turun dulu kiai kenapa ya).”

Oleh karena K.Mahdlur sebagai pihak yang bertanggungjawab karena dia-lah yang mengundang Kiai, dia merasa tidak enak sendiri baik kepada pihak tuan rumah maupun para undangan yang hadir.

“Kaule saporanna se bennya,’ sebab keae mon ta’ segera dihadapi, daddinna enga’ neka (Saya mohon maaf, sebab kiai jika tidak secepatnya ditemui, jadinya seperti ini),” kata K.Mahdlur berupaya mendinginkan suasana.

“Den kaule marenna asarengnga Pak Tenggi, ngadheppa keae, nyo’onna sapora (Sebentar lagi saya akan bersama Pak Tenggi/Kades, menghadap kiai, menghaturkan maaf),” tegas K.Mahdlur di hadapan para undangan.

Usai suasana dirasa agak tenang, kemudian berangkatlah K.Mahdlur, bersama Pak Tinggi, ketua BPD, mendatangi Kiai Badri di Pesantren Badridduja Kraksaan.

“Kamu, Dlur?,” tanya Kiai Badri.

“Saya, Kiai,” jawab K.Mahdlur.

“Biar kapok, kamu,” dauh Kiai Badri.

“Mohon maaf, Kiai,” jawab K.Mahdlur memohon.

“Ya, duduklah dah,” dauh Kiai Badri.

Ketiganya disuguhi minum terlebih dulu oleh Haddam. Sementara kiai tidak menemuinya lagi, dan sekitar tujuh menit kemudian, baru Kiai Badri menemui mereka lagi. “Ya tidak apa-apa, Dlur. Terima kasih. Jangan diulangi ya!” dauh Kiai Badri perhatian.

Akhirnya ketiganya pulang. Dan K.Mahdlur merasa puas karena sudah menghaturkan maaf, kiai pun memaafkannya.

Hari berganti minggu, minggu pun pergi dan datanglah bulan, bulan pun menyambut bulan berikutnya. Sampailah ke bulan 9, si Ibu hamil itu merasakan sakit perut. Akhirnya dia dibawa ke Puskesmas terdekat. Setelah pemeriksaan pihak Puskesmas, diketahui bahwa di dalam kandungan si Ibu tersebut bukan bayi, entah apa namanya. Ketika itu, pihak Puskesmas belum berani memastikannya. Langkah yang ditempuhnya kemudian, si Ibu hamil dilarikan ke  RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Setelah dilakukan oprasi kandungannya, ternyata betul alias, bukan bayi yang keluar dari si Ibu tadi, tapi tumor, yang beratnya kala itu sampai lima kiloan.
————————————

Jadi, begitulah di antara keistimewaan atau karomah yang datang dari Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada Alm.KH.Badri Mashduqi. Apa-apa yang secara logika tidak mungkin atau sulit diterima akal, kemudian menjadi mungkin. Kebanyakan, khususnya masyarakat di daerah Bulang, tempat dimana si Ibu hamil tersebut (red.), mereka baru percaya kepada KH.Badri Mashduqi setelah beberapa bulan kemudian. Dan inilah membuktikan bahwa KH.Badri Mashduqi memiliki kemampuan Mukasyafah, keistimewaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, Allah Robbul Alamiin.

#Wawancara bersama K.Mahdlur (Ketua Yayasan Maulana Ishak Bulang dan Ketua MUI Tingkat Kecamatan Gending Periode 2012/2017), di Bulang Gending, 10 Februari 2016.

 
Penulis : Saifullah
Publisher : Abdullah Afyudi

Komentar

Informasi Terbaru