oleh

Tirakat Kiai Badri di Masa Awal Badridduja Berdiri

Tirakat Kiai Badri di Masa Awal Badridduja Berdiri

Mendirikan pesantren ternyata tidak serta merta tegak berdiri. Agar pesantren melahirkan generasi yang tidak sebatas cerdas otak, cerdas ilmu tapi diharapkan pesantren melahirkan generasi yang juga kaya akhlak atau budi pekerti.

Di masa awal berdirinya Pondok Pesantren Badridduja, KH.Badri Mashduqi melakukan riyadlah, atau tirakat khusus. Kiai Badri berada dalam sebuah kamar khusus dan yang ditugasi menjaga pintu adalah Kiai Shaimun, dari Branta Pamekasan Madura. Kiai Shaimun masih terbilang keluarga Kiai Badri. Di antara keluarga Kiai Shaimun, di masa awal Badridduja didirikan, membantunya, istri Kiai Shaimun bersama putra-putrinya, Taufiq, Husnan, Mundzir, Juhriyah dan Rahmah.

Kala terdapat tamu mau cabis, ingin menemui Kiai Badri, maka tak seorang bisa bertemu dengan beliau karena masih ada “tugas tirakat,” alias riyadlah khusus. Jadi, Kiai Shaimun tetap berada di depan pintu yang ditugasi menjaganya agar Kiai Badri tidak terganggu dalam tirakatnya (Wawancara bersama K.Mundzir, Pamekasan, 21 Agustus, 2014).

Karena itulah, KH.Fauzan Adziman Fathullah (Muqaddam Tarekat Tijaniyah dari Pasuruan), ketika mengisi ceramah dalam rangka Harlah PP Badridduja ke-38, “Sebagai seorang pendidik tulen, KH.Badri Mashduqi mendirikan pesantren dan madrasah keagamaan. Dia pun sangat peka terhadap tuntutan mendesak bagi pelaksanaan pendidikan umum. Bagi KH.Badri Mashduqi, pendirian pesantren dan lembaga pendidikan adalah sarana atau alat untuk mencetak santri berkualitas, yakni santri yang pintar dan cerdas dalam hal keilmuan dan saleh dalam hal akhlak dan kepribadian.” (baca, Saifullah, Kiai Bahstul Masail Kiprah dan Keteladanan KH.Badri Mashduqi, 2016, hal. 257).

Semoga BadridduJAYA. Aamiin.

Kraksaan, 7 Maret 2019

 

Penulis : Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Sanusi Wardana

Komentar

Informasi Terbaru